Profil Puskesmas Sukamakmur

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur senantiasa kita persembahkan ke hadhirat Allah  SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga buku Profil Kesehatan Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar Tahun 2019 telah dapat diterbitkan dari rangkaian penyajian data dan informasi yang dilaksanakan oleh Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.

Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Besar merupakan peremajaan dan perkembangan data dan informasi kesehatan sebagai hasil berbagai upaya kesehatan selama tahun 2019.

Untuk mempercepat keberhasilan pembangunan kesehatan diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua sektor terkait, pemerintah, swasta dan masyarakat. Keberhasilan Pembangunan Kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kinerja sektor kesehatan semata melainkan sangat dipengaruhi oleh interaksi yang dinamis dari berbagai sektor, dimana hal ini merupakan upaya untuk mempercepat proses pembangunan kesehatan.

Data yang dihasilkan dari proses pembangunan yang terdiri dari indikator masukan, proses dan indikator keluaran serta indikator dampak merupakan bahan yang sangat berguna dalam melakukan analisa kecenderungan di bidang kesehatan terutama untuk penentuan strategi dan kebijakan pembangunan kesehatan dimasa mendatang.

Dalam rangka peningkatan mutu Profil Kesehatan Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar berikutnya diharapkan saran dan kritik yang membangun serta partisipasi dari semua pihak khususnya dalam upaya mendapatkan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan.

Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar Tahun 2019 kami ucapkan terima kasih.

 

 

 

                 

 

 

 Sibreh,    Mai 2019

Kepala Puskesmas

Sukamakmur

Kabupaten Aceh Besar

 

 

dr. Mahdalena

Nip. 19750621 200604 2 001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

                                                                                                   Halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………..

 

i

DAFTAR  ISI ………………………………………………………..

 

iii

DAFTAR TABEL …………………………………………………...

 

v

DAFTAR GRAFIK ……………………………………………….…

 

vi

BAB   I

PENDAHULUAN ......................................................

 

1

 

1.1

Latar Belakang..................................................

 

1

 

1.2

Maksud dan Tujuan ..........................................

 

4

 

1.3

Ruang Lingkup .................................................

 

4

BAB II

GAMBARAN UMUM .................................................       

 

5

 

2.1

Gambaran Geografis ……………………………     

 

5

 

2.2

Perkembangan Kependudukan ........................       

 

6

 

2.3

Sosial Budaya dan Lingkungan ………………..                                                                                          

 

7

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN............................

 

8

 

3.1

Angka Kesakitan ..............................................        

 

8

 

 

3.1.1 Penyakit DBD...........................................       

 

9

 

 

3.1.2 Penyakit Kusta dan Filariasis. .................

 

10

 

 

3.1.3 Perkembangan Tuberkulosis...................

 

11

 

 

3.1.4 Pneumonia Pada Balita …………………..

 

11

 

 

3.1.5 Epidemi HIV/AIDS....................................

 

12

 

3.2

Angka Kematian ...............................................                                                                                          

 

12

 

 

3.2.1 Angka Kematian Bayi...............................

 

13

 

 

3.2.2 Angka Kematian Ibu.................................

 

14

 

3.3

Status Gizi Balita...............................................        

 

14

 

 

3.3.1  Berat Bayi Lahir Rendah ........................

 

14

 

 

3.3.2  Tumbuh Kembang Balita ........................

 

15

        

 

BAB IV

UPAYA KESEHATAN…...........................................           

 

16

 

4.1

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak                                                           …………………                                                                                    

 

16

 

 

4.1.1     Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan K4) dan Deteksi Risiko Tinggi …..…………………

 

16

 

 

4.1.2     Persalinan Oleh Nakes dan Kunjungan  Nifas ……………………………………….

 

17

 

 

4.1.3     Kunjungan Neonatus dan Bayi ………….

 

17

 

 

4.1.4     Akseptor Keluarga  Berencana  dan Distribusi  Alat Kontrasepsi ………………

 

18

 

 

4.1.5     Cakupan Vitamin A pada Bayi, Balita dan Ibu Nifas ………………………………

 

19

 

 

4.1.6     Asi Eklusif dan PMT Gakin ………………

 

19

 

 

4.1.7     Penimbangan Balita dan Cakupan Balita gizi Buruk. ...............................................

 

19

 

 

4.1.8     Imunisasi Bayi…………………………….

 

20

 

4.2

Akses Mutu dan Pelayanan Kesehatan………...

 

21

 

 

4.2.1   Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.........                                                                                             

 

21

 

 

4.2.2   Pelayanan Kesehatan Jiwa………………

 

21

 

4.3

Perilaku Hidup Masyarakat ……………………...

 

22

 

4.4

Keadaan Lingkungan… ………………………….

 

22

 

 

4.4.1   Rumah Sehat ……………………………..

 

22

 

 

4.4.2   Sanitasi Dasar …………………………….      

 

23

 

 

4.4.3   Pembinaan Institusi ………………………

 

23

BAB V

SUMBER DAYA KESEHATAN.………………………        

 

24

 

5.1

Sarana Kesehatan……………………………….

 

24

 

5.2

Jumlah UKBM dan Posyandu…………………..

 

24

 

5.3

Ketersediaan Obat ………………………………

 

26

 

5.4

Tenaga Kesehatan……………………………….

 

26

 

5.5

Pembiayaan Kesehatan ………………………...

 

27

BAB  VI

PENUTUP  ...............................................................

 

29

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

 

 

Halaman

 

 

 

 

 

 

Tabel 5.2

Proporsi Anggaran Kesehatan Di Kecamatan Sukamakmur Kab. Aceh Besar Tahun 2019 …………………………………………………………………..

 

 

 

33

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  No. 03.1 tahun 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014, menetapkan Visi Pembangunan Kesehatan adalah “Masyarakat yang sehat dan mandiri serta berkeadilan”. Untuk mewujudkan Visi ini Kemenkes menetapkan Misi Kesehatan yakni    (1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; (2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan; (3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; (4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah unit pelaksana tehnis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan  kesehatan  suatu atau sebagian wilayah kecamatan dan Puskesmas sebagai unit organisasi fungsional dibidang kesehatan dasar yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, membina peran serta masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar secara menyeluruh dan terpadu.Untuk mewujudkan pelaksanaan fungsi dan program kegiatan puskesmas, maka telah dilengkapi dengan sistem menejemen seperti, Mini Lokakarya, SP2TP, Monitoring Bulanan, Laporan Bulanan, Laporan Triwulan, Laporan Tahunan dan hal yang menunjang pelaksaanannya.

Puskesmas selaku instansi tehnis pelaksana dari Dinas Kesehatan pemerintah Kabupaten Aceh Besar pada tahun 2019 telah melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan dengan berbagai program. Meskipun pelaksanaan pembangunan kesehatan 2019 masih menghadapi banyak kendala, namun pada umumnya kegiatan pelayanan kesehatan dapat terlaksana dengan baik, oleh karena pemerintah Daerah , Provinsi dan Pusat turut menunjang dengan berbagai program prabayar seperti Dana Operasional Puskesmas, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Bantuan Operasonal Kesehatan (BOK). Dengan adanya Jaminan kesehatan prabayar ini seluruh pelayanan kesehatan bagi masyarakat diberikan cuma-cuma baik pelayanan primer, sekunder maupun tersier.

Untuk mengetahui seberapa jauh program pembangunan kesehatan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah telah menetapkan standar/ parameter acuan penilaian seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Human Development Index/Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan yang lebih spesifik di bidang kesehatan adalah Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

IPKM merupakan indikator komposit yang memberi gambaran  keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Indikator utama atau gold standarIPKM adalah Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) yang disusun berdasarkan 24 indikator komposit yang erat hubungannya dengan UHH. Ke- 24 komposit atau variabel utama tersebut dibedakan menjadi tiga variabel yaitu variabel mutlak (harus ada), variabel penting dan variabel perlu. Variabel mutlak sebanyak 11 variabel sedangkan variabel penting sebanyak 5 variabel dan variabel perlu ada 8 variabel. Dalam IPKM variabel mutlak terdiri dari prevalensi Balita gizi buruk dan kurang, Balita sangat pendek dan pendek serta sangat kurus dan kurus. Selanjutnya adalah Tingkat Akses Masyarakat Terhadap Sanitasi dan Air Bersih, Cakupan Penimbangan Balita, Pemeriksaan Neonatal I dan cakupan Imunisasi Lengkap bayi, Rasio dokter/Puskesmas, Rasio Bidan Per Desa dan Cakupan Persalinan Oleh Nakes. Pada variabel penting yang termasuk kedalamnya adalah proporsi Balita Gemuk, Prevalensi Diare, Hipertensi dan Pneumonia ditambah dengan proporsi perilaku cuci tangan pada tingkat rumah tangga. Terakhir, pada variabel perlu terdiri dari Prevalensi Gangguan Mental, Perilaku Merokok setiap Hari, Penyakit Gigi dan Mulut, Prevalensi Astma, Disabilitas, Cidera, Penyakit Sendi dan ISPA.

Profil Kesehatan adalah salah satu bentuk laporan tahunan (Annual Report) yang menyajikan data-data pencapaian indikator kinerja kesehatan pada tahun anggaran 2018. Data-data dalam profil kesehatan menjadi parameter atas penyelenggaraan urusan wajib pemerintah daerah di bidang kesehatan. Ketersediaan  profil menjadi salah satu unsur indikator penilaian kinerja setiap unit layanan kesehatan.

Profil  PuskesmasSukamakmur  adalah gambaran situasi kesehatan di  Puskesmas Sukamakmur yang  dalam Profil ini memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk Tabel dan Grafik.

Profil Puskesmas Sukamakmur tahun 2019 diharapkan dapat memberikan data yang akurat. Selain itu profil ini dapat digunakan sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan, pencapaian Program kegiatan di Puskesmas Sukamakmur tahun 2019 .

  • Maksud dan Tujuan

Tujuan umum penyusunan profil ini adalah sebagai laporan evaluasi terhadap pencapaian indikator kinerja Puskesmas Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar untuk tahun Angggaran 2019. Adapun tujuan khusus adalah:

1.2.1. Sebagai urusan wajib penyelenggara pelayanan publik

1.2.2. Menyediakan informasi berbasis bukti (evidence base)

1.2.3. Menyajikan pencapaian kinerja tahun anggaran 2019

1.2.4. Menyajikan pencapaian target SPM tahun 2019

1.2.4. menyajikan hasil evaluasi kinerja pembangunan kesehatan Kabupaten Aceh Besar 2019

1.3.     Ruang Lingkup

Data-data yang disajikan dalam profil ini mencakup beberapa hal, antara lain adalah:

1.3.1.Perkembangan wilayah, demografis dan sosial ekonomi.

1.3.2.Perkembangan Derajat kesehatan masyarakat, meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi.

1.3.3.     Cakupan Upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan kesehatan, PHBS dan kondisi lingkungan.

1.3.4. Perkembangan Sumber daya kesehatan mencakup distribusi SDM, sarana dan prasarana.

1.3.5. Alokasi Pembiayaan Kesehatan

BAB II

GAMBARAN UMUM

 

2.1. Gambaran  Geografis

Secara administrasi Puskesmas Sukamakmur Kecamatan Sukamakmur merupakan salah satu kecamatan dalam Kabupaten Aceh Besar  yang berada dalam wilayah Provinsi Aceh.

PuskesmasSukamakmur Kedudukannya  Topografi wilayahnya dataran rendah. Oleh karena kedudukannya di jalur khatulistiwa, curah hujan di Kabupaten ini tergolong tinggi yaitu antara 11-304 mm pertahun dengan suhu udara berkisar 21-33°C.

Luas wilayahnya mencakup106,06 Km² yang dibagi atas 35 Desa, dengan Jarak Tempuh ke Ibu kota Kabupaten ± 33,5 Km dan ke Ibukota Provinsi Aceh ± 16,5 Km²

Adapun batas –batas wilayah Kerja Puskesmas SukamakmurKabupaten Aceh Besar adalah sebagai berikut:Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah kerjaPuskesmas Ingin Jaya;Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Indrapuri; dan wilayah kerja Puskesmas Leupung;Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kuta Malaka; dan wilayah kerja Puskesmas Montasik; Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Puskesmas kerja Simpang Tiga.

2.2. Perkembangan Kependudukan

Pertumbuhan penduduk Kecamatan SukamakmurKabupaten Aceh Besar dalam tiga tahun terus bertambah walaupun tidak terlalu signifikan dimana pada tahun 2012 jumlah pendudukmenjadi   ±14,224 jiwa, tahun 2013 jumlah penduduk menjadi 14,634 jiwa dan pada tahun 2014 jumlah penduduk bertambah menjadi ± 15,109 jiwa . Pada tahun 2014  jumlah laki-laki sebanyak7.619 jiwa dan perempuan 7.490 jiwa dan pada tahun 2015 jumlah penduduk bertambah menjadi Jumlah laki-laki 7.625 dan Jumlah penduk Perempuan berjumlah 7.529  dengan perbandingan jenis kelamin (sex ratio) 99,60sedangkan rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 5 atau sudah mencapai kondisi ideal kepadatan rumah tangga.

Angka Kelahiran Kasar/ Crude Birth Rate (CBR)selama tahun 2015 adalah 14,69 Tingginya angka kelahiran kasar (Crud Birth Rate) tentunya meningkatkan angka pertumbuhan penduduk (Population Growth Rate) danmemperbesar  beban tanggungan penduduk (dependency ratio).Dinamika penduduk Kecamatan SukamakmurKabupaten Aceh Besar bila disusun menurut hirarki golongan umur termuda (bayi) hingga golongan tua (lansia) akannampak  bahwa komposisi penduduk terbanyak berada pada usia muda<30 tahun ( 58,36 % ). Dengan demikian struktur penduduk Kecamatan  ini merupakan struktur penduduk muda atau tidak produktif (anak-anak dan remaja) lebih banyak dibanding penduduk produktif. Tingkat dependency ratio tahun 2015  sebesar 42,12% yang berarti bahwa setiap 100 jiwa penduduk usia produktif harus menanggung 42 jiwa penduduk tidak produktif.

 

 

 

2.3. Sosial Budaya dan Lingkungan

Tingkat pendidikan rata-rata penduduk usia 10 tahun ke atas KecamatanSukamakmurtergolong tinggi ( 56,09 % ). Berdasarkan data penduduk tahun 2012 yang Tamat SD/MI 965 jiwa,tamat SMP/MTSN 1.228 jiwa, tamat SMA/SMK/MA 1.878, sementara  yang mencapai perguruan tinggi  tingkat AK/Diploma  484 jiwa dan Universitas 576 jiwa.Pada tahun 2019 persentase penduduk yang melek huruf tidak dilakukan pendataan.

 

 

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

 

3.1.Angka Kesakitan

Pada Tahun 2019, gambaran umum pola penyakit di wilayah kerja puskesmas Sukamakmur lebih banyak kearah penyakit infeksi dan penyakit tidak menular. Penyakit infeksi berpotensial KLB  seperti diare tetap berlangsung secara endemis.

Tingginya insiden kasus penyakit infeksi dalam masyarakat dapat dilihat dari sepuluh penyakit utama rawat jalan di tingkat pelayanan kesehatan primer. Pada tahun 2019 terdapat 15.574 kunjungan yang dilaporkan atau 94,55% dari jumlah penduduk.Berdasarkan laporan bulanan LB1 untuk jenis kasus baru, pola penyakit utama rawat jalan Puskesmas adalah Rhematoid Artrhitis  ,ISPA  dan Dyspepsia .

 Status puskesmas Sukamakmur adalah  puskesmas Rawatan   ( Rawat Inap ) pada akhir  tahun 2010 dan mulai berfungsi sejak April 2011 maka pasien yang emergency baik masyarakat wilayah puskesmas Sukamakmurmaupun luar wilayah dapat langsung di rawat di puskesmas, berdasarkan data  kasus yang ditangani pada tahun 2019 berjumlah 380 kasus yang telah dirawat di puskesmas Sukamakmur.

Berdasarkan laporan kegiatan Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) tahun 2018 di wilayah puskesmas Sukamakmur diketahui bahwa surveilans kasus Acut Flaccid Paralysis (AFP) atau kasus kelumpuhan non polio tidak ada. Data-data surveilan epidemiologi penyakit menular diare yang ditangani tahun 2017 sebanyak 331 kasus sedangkan pada tahun 2019 kasus diare yang ditangani turun dengan 131 kasus , hal ini disebabkan masih ada  lingkungan dan perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Pada tahun 2018, sudah banyak jumlah sarana sanitasi dasar yang telah memenuhi syarat kesehatan , dan penduduk yang mempunyai akses terhadap sanitasi yang layak ( 100%), pemantauan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga belum berjalan maksimal karena pada tahun 2018 hanya 222 rumah ( 55,50 % ) yang ber PHBS dari 400 rumah yang dipantau.

Pada tahun 2019 insiden pneumonia pada balita  di dapati 7    kasus, hal ini mungkin terjadi akibat dari belum maksimal berjalannya program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di puskesmas sehingga upaya pencegahan belum optimal.

Untuk kasus-kasus penyakit berbasis vector (vector born diseases) seperti malaria dan DBD, berdasarkan data  pada tahun 2018 Insiden malaria (malaria positif) tidak ditemui, dengan API sebesar 0,20/1000 penduduk.

 

 

 

 

 

3.1.1. Penyakit DBD

Penyakit DBD diwilayah kecamatan Sukamakmurmerupakan suatu momok bagi masyarakakarena letak geografisnya.Dimana jumlah kasus DBDnya masih cukup tinggi, jumlah kasus DBD  pada tahun 2017 adalah 5 kasus( 41,0 % ) dan pada tahun 2019 masih juga ada  kasus DBD dengan kejadian 6 kasus ( 100% )namun tidak ada kasus meninggal akibat DBD, kasus DBD biasanya sulit di tekan oleh karena jumlah rumah/bangunan bebas jentik masih rendah.

Grafik 3.1

KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

DI PUSKESMAS  SUKAMAKMUR

KAB. ACEH BESAR TAHUN 2019

 

 

 

3.1.2. Penyakit Kusta dan Filariasis

Penyakit kusta (MB dan PB) dan filariasis merupakan dua jenis penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. Pemerintah telah menetapkan target menghapus (eliminasi) Kusta pada tahun 2000 dan eliminasi filariasis pada 2019. Pada tahun 2019 tidak ditemukan kasus penyakit kusta di wilayah Puskesmas Sukamakmur.

Untuk  penyakit filariasis dalam wilayah Puskesmas Sukamakmur tahun 2019 tidak ditemukannya kasus baru namun sebagai upaya pemberantasan filariasis, sejak tahun 2008 telah digerakkan program eliminasi filariasis salah satunya dengan metode minum obat masal selama 5 tahun berturut-turut dalam rangka mewujudkan target Aceh Besar Bebas Filariasis Tahun 2015. Pengobatan masal filariasis telah memasuki tahun ke-6 dimana seluruh masyarakat usia > 2 tahun dalam Kabupaten Aceh Besar umumnya dan kecamatan Sukamakmur khususnya  berpartisipasi minum obat anti filaria secara serentak.

3.1.3. Perkembangan Tuberkulosis

Penyakit tuberculosis termasuk dalam penyakit prioritas dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena insiden penyakit makin meningkat. Meningkatnya insiden TB dipengaruhi oleh pandemic  HIV/AIDS dan resistensi bakteri varian ini terhadap antimikroba.  Pada tahun 2019, jumlah penjaringan suspek TB belum mampu mencapai target 70% dari jumlah penduduk. Pada 2019 proporsi kasus BTA (+)  hanya  sebesar 5 kasus.

3.1.4. Pneumonia Pada Balita

Berbagai Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sering menyebabkan pneumonia pada Balita. Program Nasional Penanggulangan Penyakit ISPA (P2-ISPA) tahun 2011 memperkirakan sebanyak 40% Balita menderita ISPA dan dari sebanyak ini 3% diantaranya disertai dengan komplikasi yakni Pneumonia. Secara klinis Pneumonia dibagi atas 3 grade yakni Pneumonia Ringan, Sedang dan Berat, untuk wilayah sukamakmur terdapat 7kasus pnemonia pada balita.

Namun untuk mencapai target program, setiap Puskesmas diaktifkan kegiatan surveilans. Surveilans ini bertujuan untuk mendeteksi kasus-kasus Pneumonia tahap awal pada Balita. Tingkat keaktifan kegiatan surveilans dapat dilihat dari seberapa banyak kasus yang terdeteksi terutama pada tahap dini. Dari hasil laporan surveilans  2019 dapat diketahui bahwa kegiatan surveilans puskesmas belum berjalan efektif.

3.1.5. Epidemi HIV/AIDS

Pandemic global HIV/AIDS yang telah memasuki fase ke 4 turut melanda Propinsi Aceh.Dalam satu dasawarsa terakhir, kasus penyakit berkembang secara eksponensial.Hal ini tidak terlepas dari penyakit HIV/AIDS yang membentuk pola phenomena gunung es. Berdasarkan data untuk wilayah kecamatan Sukamakmurtidak ditemukannya Kasus HIV/AIDS.

3.2. Angka Kematian

Tingkat kematian penduduk dapat memperlihatkan gambaran derajat kesehatan masyarakat oleh karena tingkat kematian dipengaruhi oleh kesejahteraan masyarakat. Makin tinggi tingkat kesejahteraan makin rendah tingkat kematian kematian khusus (ibu hamil, ibu bersalin, bayi dan balita). Selain itu data kematian juga digunakan untuk menghitung Umur Harapan Hidup (UHH) dan kondisi pelayanan kesehatan.

 

 

 

3.2.1. Angka Kematian Bayi

Tidak ditemukan angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2019 di wilayah kecamatan Sukamakmur

 

3.2.2. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah kematian ibu akibat dari proses kehamilan dan persalinan. Dengan target AKI sebesar 126/100.000 kelahiran hidup. Untuk wilayah kecamatan Sukamakmur pada tahun 2019 tidak ditemukan kasus kematian Ibu.

 

3.3.     Status Gizi Balita

Status gizi masyarakat menjadi indikator utama IPM dan berpengaruh besar terhadap ketahanan (survival) suatu masyarakat. Menururt laporan UNDP dan BPS Aceh (2011), nilai indeks IPM Kabupaten Aceh Besar 73,32 atau ranking 144 nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa ada permasalahan serius dengan status gizi masyarakat di kawasan ini. Dari laporan Riskesdas (2007) diketahui berbagai masalah gizi terutama kekurangan zat gizi mikro masih terjadi dimasyarakat. Kekurangan zat gizi makro dan zat gizi mikro berdampak pada tingginya gangguan tumbuh kembang balita.

Balita kurang gizi diwilayah kecamatanSukamakmura dalah 22 kasus (1,6 % ).  Selain itu besaran pengukuran masalah gizi di masyarakat dapat juga dilihat dari tingkat pertumbuhan Balita dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

3.3.1. Berat Bayi Lahir Rendah

Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah berat bayi ketika lahir <2500 gr. Kondisi ini memberi pengaruh buruk terhadap perkembangan balita pada usia selanjutnya. Pada 2019, jumlah BBLR di Sukamakmur hanya 12 kasus( 5.2 %) dari total 274 kelahiran hidup. Sementara itu cakupan deteksi Bumil dengan komplikasi sebanyak 80 orang yang sudah ditangani 72 orang ( 86,75% ).

 

3.3.2. Tumbuh Kembang Balita

Tumbuh kembang Balita merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan Balita. Tumbuh Kembang Balita perlu dipantau secara rutin dengan pengukuran antropometri / penimbangan berat badan yang dilakukan di Posyandu. Dengan memantau tumbuh kembang dapat diketahui tingkat kesejahteraan balita. Tahun 2019 tingkat kesejahteraan Balita di kecamatan Sukamakmur belum dapat diidentifikasi dengan baik oleh karena cakupan penimbangan rata-rata perbulan <70%.

Dari1348 jumlah Balita hanya 87,98% yang ditimbang dengan jumlah Balita gizi kurang (bawah garis merah) sebanyak 22 Balita sedangkan Balita dengan gizi buruk tidakditemukan.

 

 

 

 

BAB IV

UPAYA KESEHATAN

 

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan perwujudan dari visi dan misi pembangunan di bidang kesehatan. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan millennium /MDGs (Millenium Development Goals). Dalam MDGs, upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan pada Upaya Kesehatan Ibu dan Anak. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesehatan reproduksi. Untuk mencapai tujuan tersebut upaya yang ditempuh meliputi Upaya Keselamatan Ibu Melahirkan (Making Pregnancy Safer/MPS). Selama kehamilan seorang ibu perlu memperoleh serangkaian tindakan standar agar terwujud MPS demikian pula pada saat kelahiran. MPS merupakan program utama dalam Upaya Kesehatan Ibu dan Anak.

4.1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

Tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa tinggi derajat Kesehatan Ibu dan Anak. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdiri dari beberapa kegiatan utama yaitu kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan  (K1 dan K4) untuk memperoleh pelayanan sesuai standar 10T,Deteksi Risiko tinggi (Bumil Risti), Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Linakes), Penanganan Komplikasi, Kunjungan Bayi dan Neonatus serta pelayanan KB.

4.1. 1. Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan K4) dan Deteksi risiko Tinggi

Berdasarkan laporan kinerja KIA diketahui bahwa cakupan kunjungan ibu hamil pada trisemester 4 (K4) pada tahun 2019 belum mencapai target SPM nasional maupun daerah. Cakupan K4 pada 2019 sebesar 66,99 % sedangkan cakupan Nasional/  Daerah 95 %,distribusi dan cakupan pemberian tablet besi ( Fe 90 Tablet ) sebesar 66,99%. Untuk Puskesmas Sukamakmur cakupan deteksi ibu hamil risiko tinggi pada tahun 2018 yang sudah ditanggani 47 bumil atau 56,63%.

4.1.2. Persalinan Oleh Nakes dan Kunjungan Nifas

Untuk persalinan diwilayah puskesmas Sukamakmur rata-rata sudah  ditangani oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan, dimana pada tahun 2018 dari 272 ibu bersalin 72,15% di tolong oleh tenaga kesehatan walaupun tidak semua persalinannya dibantu oleh bidan desa setempat. Seluruh ibu melahirkan dan dalam masa nifas sudah dikunjungi oleh tenaga kesehatan untuk memberikan perawatan nifas, cakupan kunjungan nifas (KF) tahun 2019berjumlah 242 yang mendapatkan pelayanan kesehatan atau 64,19 %.

4.1.3. Kunjungan Neonatus dan Bayi

Setiap bayi baru lahir membutuhkan perawatan spesifik oleh tenaga kesehatan yang sudah memiliki kompetensi dibidang ini. Perawatan bayi baru lahir merupakan satu paket yang dikemas dalam bentuk kunjungan Neonatus (KN). KN ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu KN 1 6-48 jam pasca lahir, KN 2 dilakukan 3-7 hari kemudian dan KN3 8-28 setelah KN2. Jika neonatus telah mendapatkan 3 kali KN di sebut KN lengkap. Beberapa jenis pelayanan dalam KN yaitu:Penimbangan berat badan,  Imunisasi dasar lengkap,  Stimulasi Deteksi dan Intervensi diniTumbuh Kembang,  pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus (untuk bayi 6 bulan ke atas)  Konseling perawatan bayi termasuk ASI eklusif dan pemberian makan tambahanTujuan dari KN adalah untuk memantau ibu nifas dan bayi agar tetap sehat dan selamat.

Pada tahun 2019 dari 364 sasaran bayi yang diharapkan hanya 262 bayi ( 71,98 %) yang mendapat KN1. Angka ini belum mencapai target nasional maupun target SPM Kabupaten ( 90 % ).Sedangkan KN lengkap  berjumlah 262 bayi ( 71,98% ), terlihat bahwa setiap tahun KN ini terus menerus meningkat. Hal ini tidak terlepas dari semakin meratanya penempatan bidan di desa dan peningkatan status Puskesmas.

4.1.4. Akseptor Keluarga Berencana dan Distribusi Alat Kontrasepsi

Jumlah peserta Program Keluarga Berencana (KB) dalam beberapa dekade ini makin meningkat. Pola distribusi akseptor merata di seluruh kecamatan, jumlah total akseptor KB di kecamatan Sukamakmur tahun 2019 sebanyak 2.265pasangan dengan pertumbuhan akseptor baru sebanyak 173 orang ( 7,7 % ). Jenis alat kontrasepsi yang paling diminati oleh masyarakat adalah Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) sedangkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) masih kurang diminati,secara berturut-turut alat kontrasepsi Non MKJP yang terbanyak adalah KB Suntik103orang ( 59,9%) , KB Pil 47orang ( 27,3 %) dan Kondom 5 orang ( 2,9 % )  sedangkan kontrasepsi MKJP  meliputi IUD3,5%,dan Implan5,2%. Meskipun tingkat pertumbuhan akseptor KB cukup menggembirakan, namun situasi ini sangat kontras dengan tingkat kelahiran kasar di Kecamatan Sukamakmur  Kab. Aceh Besar, tingkat kelahiran kasar tidak mengalami penurunan yang signifikan, hal ini kemungkinan berkaitan dengan rendahnya minat masyarakat terhadap MKJP.

Pada lampiran tabel 35 mengambarkan tingkat

Editor : PUSKESMAS SUKAMAKMUR

Related Posts