profil Puskesmas Seulimeum

profil Puskesmas Seulimeum

  Profil Puskesmas Seulimeum 2018

                                                                              BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

      Salah satu tujuan pembangunan kesehatan di indonesia adalah tercapainya Millennium Development Goals ( MDG”s).Yaitu penurunan Angka Kematian Bayi (AKB)23 /100 kelahiran hidup pada tahun 2015. Banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Salah satu cara untuk mengurangi kematian anak adalah melalui inisiasi menyusui dini, yang dapat mengurangi angka kematian ibu melahirkan. Selain itu juga dengan cara pemberian ASI ekslusif dan pemberian ASI sampai 2 tahun yang dapat menurunkan  kematian balita ( Kompasiana,2014).

Untuk meningkatkan kesehatan dan mutu makanan bayi secara optimal sebagai tujuan global, Maka semua ibu dapat memberikan ASI eksklusif dan semua bayi diberi ASI eklusif sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dapat diukur melalui penurunan angka kematian dan angka kesakitan, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, pencapaian sasaran imunisasi, obat – obatan yang tersedia oleh puskesmas. salah satu upaya dalam melaksanakan pembangunan di bidang kesehatan tersebut adalah peningkatan status kesehatan bayi,balita,ibu hamil dan ibu menyusui (Depkes RI,2009).

Propil kesehatan adalah salah satu bentuk laporan tahunan (annual report) yang menyajikan data–data pencapaian indikator kinerja kesehatan pada tahun angaran 2018. Salah satunya yaitu puskesmas seulimeum merupakan pusat pelayanan kesehatan.

Mutu pelayanan kesehatan adalah tingkat di mana pelayanan kesehatan untuk individu maupun populasi mampu menghasilkan pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkini.  Upaya peningkatan kualitas hidup manusia dibidang kesehatan merupakan suatu usaha yang sangat luas dan menyeluruh, usaha tersebut meliputi peningkatan kesehatan masyarakat baik fisik maupun non fisik. Di dalam sistem kesehatan nasional disebutkan, bahwa kesehatan masyarakat menyangkut semua segi kehidupan yang ruang lingkup dan jangkauannya sangat luas dan komplek

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)  Yang Bertanggungjawab atas Kesehataan Masyarakat di Wilayah Kerja pada satu atau bagian Wilayah Kecamatan . Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat dinyatakan bahwa Puskesmas berfungsi Menyelengarakan Upaya Kesehatan Perseorangan ( UKP) Tingkat Pertama. Agar Puskesmas dapat mengelola upaya kesehatan dengan baik dan berkesinambungan dalam mencapai tujuannya. Maka dengan itu Puskesmas harus menjalankan Manajemen Puskesmas.

Kepala Puskesmas Penanggung Jawab upaya kesehatan dan staf puskesmas harus melaksanakan manajemen puskesmas agar pengelola sumber daya  dan upaya puskesmas dapat terlaksana secara maksimal. Oleh karena itu Kepala dan semua staf  Puskesmas harus mempunyai kompetensi dalam melakukaan Manajemen Puskesmas, Terutama dalam menindaklanjuti hasil program indonesia sehat dengan pendekatan keluarga.

 

Tugas puskesmas yaitu diantaranya merangsang masyarakat termasuk swasta untuk memberikan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien, memberi bantuan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbang ketergantugan, memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, melakukan kerja sama dengan sektor sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program puskesmas.

 

      Prinsip penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh, terpadu, terjangkau dan bermutu merupakan prinsip yang seharusnya diterapkan dipuskesmas.

sehingga kinerja puskesmas lebih optimal. Sesuai dengan amanat undang – undang tentang sistem kesehatan nasional dan dalam rangka meningkatkan peran pelayanan kesehatan primer sebagai gate keeper, kementerian kesehatan mengembangkan upaya pelayanan kesehatan berbasis dokter keluarga sebagai alternatif pilihan pelayanan kesehatan primer untuk masyarakat.

         Dengan berlakunya sistem kesehatan nasional tersebut, dilaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data yang dibukukan dalam sebuah Propil Kesehatan Puskesmas Kabupaten Aceh besar Tahun 2018. Sumber data dalam penyusunan propil kesehatan puskesmas ini berasal dari berbagai program lingkungan Dinas Kesehatan maupun lintas sektoral yang terkait yaitu BPS. Dinas kependudukan dan catatan sipil.

 

Profil puskesmas seulimeum disusun dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada pembaca, masyarakat atau relasi yang ingin mengetahui imformasi secara lengkap mengenai puskesmas seulimeum. Profil Puskesmas Seulimeum adalah gambaran situasi kesehatan di  Puskesmas Seulimeum yang diterbitkan  setahun sekali, dalam Profil ini memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data dasar dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum,derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan . Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data demografi, kependudukan, data sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data dianalisis dengan analisis sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel.       

 Profil  Kesehatan Puskesmas Seulimeum  tahun 2018. ini menggambarkan pencapaian program yang mengacu kepada SKN, dapat dijadikan sebagai masukan dan sumber kajian kebijakan bagi pengambil keputusan bidang kesehatan. Propil ini disajikan dengan sistem penyajian sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menyajikan Latar Belakang dan Tujuan diterbitkan Propil Kesehatan Puskesmas Seulimeum Kabupaten Aceh Besar Tahun 2018.

BAB II GAMBARAN UMUM DAN PERILAKU PENDUDUK

imformasi yang tersaji dalam bab ini terdiri dari aspek – aspek umum, keadaan kependudukan, pendidikan, keadaan lingkungan, dan keadaan perilaku masyarakat.

 

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Bab ini menjajikan hasil – hasil pembangunan kesehatan yang mencakup angka kematian, angka kesakitan, dan keadaan status gizi.

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN

Bab ini berisikan uraian tentang upaya – upaya kesehatan yang telah dilaksanakan sesuia target, cakupan pertahun dari setiap program – program dibidang kesehatan.

BAB  V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN

Dalam bab ini disajikan data data tentang sumber daya kesehatan, mencakup tenaga kesehatan,anggaran, sarana dan fasilitas kesehatan.   

BAB VI PENUTUP

 1.2 Maksud dan Tujuan

Tujuan Umum

               Tujuan umum penyusunan propil ini adalah memberikan gambaran kesehatan yang menyeluruh dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum dalam rangka meningkatkan  kemampuan manajemen secara berhasil guna dan berdaya guna.

 Tujuan Khusus            

1.2.1    Untuk memberikan gambaran tentang Puskesmas Seulimeum secara  lengkap

             Baik dari segi sistem pelayanan, manajemen, fisik, program, hasil kegiatan dan

           Sebagainya selama tahun 2018.                   

1.2.2     Untuk dijadikan bahan masukan untuk pengevaluasian mengenai hal-hal yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan.

1.2.3.     Menyajikan pencapaian profil kinerja utama RTL, target  dan sasaran            

               Selama  tahun  Anggaran 2017.

1.2.3      Untuk  mengetahui   gambaran   sistem  pelaksanaan   manajemen           

                    Puskesmas sebagai unit pelayanan di masyarakat.

           Propil puskesmas seulimeum tahun 2018  disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran secara umum tentang kondisi derajat kesehatan, cakupan upaya kesehatan, kondisi penyakit, sumber daya kesehatan sarana  dan prasarana kesehatan serta faktor – faktor terkait lainnya, selain itu sebagai bahan evaluasi capaian kinerja untuk tahun anggar

          Metodologi pengumpulan data propil dilakukan dengan memvalidasi data, analisis, data korelasi antar tabel dan program serta check and balance dari seluruh kegiatan program yang dihimpun dari seluruh kemukiman, desa, dusun serta pustu dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum kabupaten aceh besar. Selain itu juga dilakukan juga crosscheck lintas sektor yang meliputi : Badan Pusat Statistik (BPS), di sekolah – sekolah, kantor KB, serta adanya dukungan informasi dari kantor kecamatan seulimeum.

1.3     Manfaat

          Dengan disusunya propil kesehatan ini diharapkan dapat digunakan oleh kepala adminisrasi kesehatan dan unit – unit yang memerlukan.

Penggunaan terutama dalam rangka tinjauan / revisi tahunan kondisi kesehatan masyarakat dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum, dan sebagai alat evaluasi program tahunan yang telah dilaksanakan, untuk menyusun rencana tahunan kesehatan tahun berikutnya.

 

 

1.4.     Ruang Lingkup

Data-data yang disajikan dalam profil ini mencakup beberapa hal, antara  lain                                     

     1.3.1.     Perkembangan wilayah kerja puskesmas, demografis,sosial  dan ekonomi

     1.3.2.  Perkembangan derajat kesehatan masyarakat, meliputi angka kematian,                   

                Angka kesakitan, percapaian target imunisasi dasar dan status gizi.

     1.3.3.  Cakupan upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan kesehatan, PHBS rumah

                Tangga, angka kejadian penyakit menular dan kondisi lingkungan.

      1.3.4. Perkembangan sumber daya kesehatan mencakup Mitra kerja, distribusi

                                                                                BAB II

                                                                GAMBARAN UMUM  G

2.1.   Gambaran Giografis222eografis

           Kecamatan Seulimeum Dalam Angka 2018 ini merupakan publikasi  rutin yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Aceh Besar. Data yang disajikan adalah data primer hasil pengumpulan dari instansi instansi yang berada dalam wilayah kerja, baik instansi pemerintahan maupun instansi non pemerintahan, serta ada beberapa data dari dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum serta data bidan desa.

            Kondisi   geografis  Puskesmas  Seulimeum  terdiri  dari  wilayah  dataran dan,  Dibangun  pada  tahun 1998. dengan  luas tanah halaman puskesmas  2520 km2, serta luas  bangunan  puskesmas  seulimeum  312 km2. Letak   wilayah   kerja  Puskesmas   Seulimeum   merupakan   satu   dari   dua Puskesmas  yang berada  di Wilayah  Kecamatan Seulimeum  Kabupaten Aceh Besar  yang  berada  di sebelah  Barat  dengan  jarak sekitar 10 km dari Ibukota Kabupaten  Aceh  Besar  yang dihubungkan dengan jalan raya beraspal dengan batas-batas  wilayah  sebagai berikut : Sebelah Utara  berbatasan dengan Selat Malaka; Sebelah  Selatan berbatasan dengan wilayah  kerja puskesmas Kota Jantho; Sebelah Timur  berbatasan dengan wiyalah kerja puskesmas Kecamatan Lembah Seulawah dan Kabupaten Pidie; Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja puskesma Kecamatan Kuta  Glee, dan wilayah keja puskesmas Kecamatan  indrapuri dan wilayah kerja puskesmas Kecamatan Mesjid Raya.

Secara administrasi wilayah kecamatan seulimeum mempunyai 47 desa dan 5 pemukiman. Yang menjadi Wilayah Kerja Puskesmas Seulimeum yakni terdiri dari Ibu Kota jantho Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh.

Wilayah kerja puskesmas seulimeum terdiri dari 34 Gampong, dengan luas Kecamatan,487,26 km2.  (48.726 Ha) .Dengan Jumlah Kemukiman 3 Mukim. Yaitu Kemukiman Seulimeum dengan luas wilayah 86,00 km2 ada 16 Gampong,Kemukiman Tanoh Abee dengan luas wilayah 60,00 km2,ada 13 Gampong, Kemukiman Lamkabeu luas wilayah 79,02 km²,ada 5 Gampong. Jadi total luas wilayah kerja puskesmas seulimeum 225,02 km2 dan Terdapat 114 jumlah dusun. Dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum adanya 2 pustu yaitu pustu tanoh abee terletak digampong bak setui dan pustu lamkabeu terletak digampong meunasah tunong.          

                                                     Gambar 2.1

                          Peta Wilayah Kabupaten Aceh Besar

2.2.     Perkembangan Kependudukan

Situasi kependudukan dapat dilihat dari berbagai indikator antara lain tingkat pertumbuhan, angka kelahiran kasar , distribusi penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur serta kepadatannya. Pada tahun 2018  jumlah penduduk sebanyak 16,280 jiwa dengan jumlah laki-laki sebanyak 8049 jiwa, perempuan 8221 jiwa.Dengan jmlah dusun 114,jumlah rumah 3542, jumlah KK 3946,dengan kepadatan penduduk 57,5 Per km 2

Grafik 2.1

Jumlah penduduk dalam Wilayah kerja Puskesmas Seulimeum Tahun 2018

Grafik 2.2

Jumlah penduduk menurut jenis kelamin kelompok umur dalam

Wilayah kerja Puskesmas Seulimeum Tahun 2018

2.3.    Sosial Budaya dan Lingkungan

           Dalam Wilayah kerja puskesmas seulimeum memiliki sarana pendidikan berupa 12 tk, 12 sd/min, 4 smp/mts, 2 sma/man, 12 Pasantren dan 4 pasantren yang bermitra kerja. Sarana transportasi di semua desa sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Sarana air minum yang memenuhi syarat sebanyak 1.789

               Sedangkan jumlah sasaran sumur gali terlindunggi 1.238 unit,  dan jumlah penduduk pengguna yang memenuhi syarat 7.019 unit, penduduk yang mengakses air minum  layak dengan PDAM 9468 , Dari jumlah penduduk 16.280 jiwa.  

               Untuk jumlah seluruh rumah tahun 2018  sebanyak 3268  rumah. dengan jumlah rumah yang memenuhi syarat  atau jumlah rumah sehat 1.689 rumah.sedangkan jumlah rumah yang dalam pembinaan 493 rumah.

           Berdasarkan laporan bulanan  dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum,maka jumlah kunjungan pasien yang berobat dalam tahun 2018  yaitu:kunjugan JKN sebesar 7569  jiwa,  rujukan  432  jiwa,  kunjungan askes 310   jiwa, rujukan askes 223 jiwa.

Menurut rekapitulasi klaim non kapitasi puskesmas seulimeum untuk tahun 2018 jumlah rawat inap laki – laki  223  jiwa. perempuan 244  jiwa,  jumlah total  676 jiwa,

Dengan demikian jumlah kunjungan pasien rawat jalan baru berjumlah 1,127 jiwa.  Dan

Kunjungan pasien yang lama 1.668.

Grafik. 2.3

Pertumbuhan kepadatan penduduk dalam wilayah kerja

puskesmas seulimeum tahun 2017-2018

                                                                 BAB III

                                      SITUASI  DERAJAT  KESEHATAN

          Perkembangan  Upaya    kesehatan  secara  menyeluruh    dan  berkesinambungan

Menjadi  salah  satu pilar  utama  untuk   menbangun  daerah.  Derajat kesehatan di pengaruhi  oleh   empat    faktor    utama    yaitu  :   Lingkungan,  Prilaku,   Pelayanan Kesehatan Dan Genetika.

         Indikator  Penting  dan  Sensitive  untuk   mengukur derajat  kesehatan masyarakat

Antara  Lain : Angka Kematian Ibu, ( AKI )

3.1.  Pelayanan Kesehatan

Setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama- sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.

 Selama tahun 2017, gambaran umum pola penyakit tidak berubah dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya dimana penyakit infeksi masih menonjol di masyarakat. Tingginya insiden kasus penyakit infeksi dalam masyarakat dapat dilihat dari sepuluh penyakit utama rawat jalan di tingkat pelayanan kesehatan primer.

Pada tahun 2018 terdapat jumlah kunjungan rawat jalan yang baru 1.2944 jiwa, dengan jumlah laki – laki 5990 jiwa.  Dan perempuan 6954 jiwa,  serta jumlah kunjungan pasien yang lama 1.7496, jiwa dengan laki – laki 7400 jiwa. Dan perempuan 10.096 jiwa.

 Berdasarkan laporan bulanan LB1 untuk jenis kasus baru dan kasus lama, pola penyakit utama rawat jalan dapat dilihat pada tabel 10 besar penyakit di Puskesmas Seulimeum  tahun 2018.

                                                   Tabel 3.1

                                         JUMLAH  10 PENYAKIT TERBANYAK

NO

Nama Penyakit

Jumlah

Total

%

Laki – laki

Perempuan

1

I S P A

2122

2023

4145

32,6

2

 C C

1121

1021

2142

16,1

3

DISPEPSIA

920

883

1803

13,6

4

 R A

880

816

1696

13,4

5

HIPERTENSI

413

411

824

6,3

6

CEPALGIA

411

409

820

6,3

7

D M

323

320

643

4,9

8

 PENYAKI KULIT INFEKSI

321

308

629

4,8

9

D I A R E

222

220

442

3,4

10

HIPOTENSI

189

179

368

2,8

JUMLAH

6299

6590

12889

9,99

 

2.2.     Perkembangan Kependudukan

Tabel diatas menunjukkan tentang jumlah dan jenis penyakit yang termasuk ke dalam 10 besar penyakit yang ada di wilayah kerja Puskesmas Seulimeum  pada tahun 2018.

     Dilihat dari jenis penyakit terbanyak adalah penyakit Ispa yaitu total  4145  kasus atau (32,6 %) dan jumlah terkecil adalah penyakit lain yaitu hipotensi  yaitu 368  kasus atau (2,8 %).

 

3.1.1.  Penyakit DBD

             Upaya pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka bebas jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Selama tahun 2018 ditemukan 1 kasus DBD.ini menunjukkan bahwa penyakit DBD dapat dicegah dan diatasi,dengan mengubah faktor Prilaku Hidup Bersih Dan Sehat,Terutama di Lingkungan  Rumah Tangga.

 

3.1.2.  Penyakit Kusta dan Filariasis

Meskipun Indonesia sudah mencapai eliminasi kusta pada pertemuan kusta tahun 2000, sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat. Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah ini diperberat masih tingginya stigma dikalangan masyarakat dan sebagian petugas. Akibat dari kondisi ini sebagian dari penderita dan mantan penderita dikucilkan sehingga tidak mendapatkan akses pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang berakibat pada meningkatnya angka kemiskinan.

Di wilayah kerja Puskesmas Seulimeum ditemukannya penderita kusta selama tahun 2018  sebanyak  5 kasus,  dan tidak pernah ditemukannya kasus filariasis.

 

3.1.3.  Perkembangan Tuberkulosis

Berdasarkan data kompilasi dari programer TB Paru dalam wilayah kerja Puskesmas Seulimeum pada tahun 2018,  Jumlah  Saspec TB PARU 226 jiwa, dengan  saspek laki – laki 142 jiwa. Dan perempuan 95 jiwa. Yang BTA (+) sebanyak 24 jiwa , dengan   laki – laki 18 jiwa. dan perempuan 6 jiwa. serta yang ektra paru sebanyak 1 orang, ini semua dilakukan pengobatan lengkap dan  sembuh sebanyak  24 jiwa dan  100 %.

Dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum tidak  didapatnya TB Anak dalam tahun 2018. 

 

3.1.4.  Pneumonia Pada Balita

Berbagai Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan  Akut (ISPA) sering menyebabkan pneumonia pada Balita. Untuk mencapai target program, setiap Puskesmas diaktifkan kegiatan surveilans. Surveilans ini bertujuan untuk mendeteksi kasus-kasus pneumonia tahap awal pada balita. Tingkat keaktifan kegiatan surveilans dapat dilihat dari seberapa banyak kasus yang terdeteksi terutama pada tahap dini. Dari hasil laporan surveilans 2018  ditemukannya  kasus 1 pneumonia pada balita di Puskesmas Seulimeum. Dan selanjutnya terus dilakukan pengobatan dan rujukan juga konseling bagi ibu balita.

  1. MORTALITAS

   Mortalitas   adalalah  ukuran  jumlah  kematian  pada  suatu  kelompok  populasi. Mortalitas dapat mengekpresikan jumlah suatu kematian per 1.000 individu dalam periode waktu tertentu.  Berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada angka kesakitan individu dalam periode waktu tertentu. Pada bab ini kita dapat melihat bagaimana gambaran kejadian kematian dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum pada tahun 2018.

3.2.1.  Angka Kematian Bayi

Berdasarkan data yang diperoleh dari  Puskesmas Seulimeum tahun 2018 menunjukkan bahwa ditemukannya kematian pada bayi, laki laki  1 orang. dan ditemukannya 1 jiwa IUFD. lahir hidup 129  sehingga didapatkan IMR 129/1000 kelahiran hidup, hal ini berarti bahwa dari 1000 kelahiran hidup ditemukannya kasus kematian pada bayi  1 jiwa.

 

 

              Ada  banyak  faktor yang mempengaruhi  tingkat  AKB tetapi tidak mudah untuk

menemukan faktor yang paling dominan. Keberadaan bidan di desa dengan skil yang terampil merupakan salah satu faktor pendukung, karena bidan desa merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di lini paling bawah.  

              Serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke  kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.

Dengan  dukungan dari pemerintah melalui program JAMPERSAL yang memberikan jaminan persalinan gratis bagi seluruh masyarakat sehingga terjadinya peningkatan pertolongan persalinan oleh Nakes. Sehingga meminimalisasi terjadinya komplikasi pada masa  kehamilan dan persalinan.

 

3.2.2.  Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu maternal atau Maternal Mortality  Rate (MMR) menunjukkan banyaknya ibu hamil atau ibu bersalin yang meninggal pada setiap 1.000 kelahiran hidup. Di wilayah kerja Puskesmas Seulimeum selama tahun 2018 tidak ada  kasus kematian ibu . Upaya efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional di fasilitas kesehatan, meningkatkan penggunaan kontrasepsi paska persalinan dan penanganan komplikasi maternal.

 

 

3.3.     Status Gizi Balita

 Masalah Gizi merupakan faktor resiko terjadinya penyakit, hal ini berkaitan dengan daya tahan tubuh dan kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit.

Asupan makanan dapat memberikan konsekuensi individu, baik status kesehatan, pertumbuhan, mental dan fungsi lainnya (Kognitif, imunitas, reproduksi dll).  

 Status Gizi bayi dan Balita salah satunya merupakan hal yang berperan penting dalam perkembangan tumbuh kembang dibanding kelompok usia lain.

          Dilihat dari hasil kegiatan Pemantauan Status Gizi ( PSG ) yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2016, berdasarkan Indikator BB/U diperoleh gambaran bahwa dari jumlah sasaran 1037. balita yang ditimbang sebanyak 1330 orang (100%), ternyata ada 6 anak  (0.8%), sangat rendah termasuk BGM. Status gizi kurang 112 orang ( 3,9 %),  gizi baik  1223 anak  (88 %), dan 10 anak ( 0,60%) yang gizi lebih.

 

                Berdasarkan indikator Tinggi Badan per umur ( TB/U ) didapatkan data bahwa 12 anak mempunyai TB sangat pendek ( 0,9%). Pendek didapatkan 115 orang ( 8,5%),Normal diperoleh angka 1208 (88%). Dan Jangkung 2 orang ( 0,14%).

Dan berdasarkan indikator BB/TB ditemukannya status gizi normal 1281 (95%), Status gizi kurus ada 53  anak (3,8%), status gizi gemuk 15 (0,9%).dan ditemukan 2 anak yang kurus sekali ( 0,1%).

Partisipasi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh masyarakat melalui posyandu pada tahun 2018  sudah  membaik,  hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar ibu balita memanfaatkan posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan terdekat dan milik mereka sendiri. Meningkatnya kerjasama lintas program dan lintas sektor juga menyebabkan meningkatnya partisipasi masyarakat di posyandu (d/s),dan pelayanan kesehatan bayi dan balita juga meningkat.

                 

  1. ANGKA KESAKITAN ( MORBIDITAS )

Morbiditas adalah angka kesakitan ( Insidensi atau Prevalensi ) suatu penyakit yang terjadi pada suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis penyakit yang sering menonjol serta upaya pencegahan dan penanggulangannya penyakit menular dan tidak menular dalam wilayah kerja puskesmas seulimeum.

Ispa adalah kepanjangan dari infeksi saluran pernafasan akut yang berarti terjadinya infeksi yang parah pada bagian sinus, tenggorokan, saluran udara, atau paru – paru. Ispa sering kali disebabkan oleh virus ataupun bakteri.

Sebagai langkah efektif dalam mewaspadai ispa tentunya dengan melakukan pola hidup higienis yang bisa dilakukan dengan PHBS.

Tabel 3.3

Kesakitan Tuberkulosis Kabupaten Aceh Besar

Tahun 2018

No

Uraian

Jumlah

Satuan

1

Jumlah kasus baru ispa

2018

Kasus

2

Proporsi kasus baru ispa

14,3

%

3

Angka kesembuhan ispa

90

%

4

Angka pengobatan

95

%

5

Angka kematian selama pengobatan

0

%

 

 BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

 

Untuk Dapat mencapai tujuan pembangunan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.  Telah dilakukan berbagai upaya kesehatan masyaraka. Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan Langkah awal  yang sangat penting  dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar sacara cepat  dan tepat diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat dapat di atasi. ditandai dengan cara yang kesehatan sangat penting dalam rangka memberikan Pelayanan kesehatan dasar pengorganisasi yang umumnya secara tujuan sama dalam satu organisasi yang tujuan utamanya memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit,  serta sasarannya terutama untuk kelompok dan masyarakat.

  1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR

Salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan  masyarakat adalah menurunkan penyakit degeneratif. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan). Oleh karena ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan rakyat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat mempunyai porsi besar.

Namun demikian karena keterbatasan sumber daya pemerintah, maka potensi masyarakat perlu di gali atau di ikut sertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.  

Dalam MDGs, upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan pada Upaya Kesehatan Ibu dan Anak. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesehatan reproduksi.                 

Untuk mencapai tujuan tersebut upaya yang ditempuh meliputi Upaya Keselamatan Ibu Melahirkan (Making Pregnancy Safer/MPS).

 Dalam meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan posyandu serta menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak balita. Menurunkan angka kematian serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk Ber Prilaku hidup bersih dan sehat.

4.1.     Upaya Kesehatan Ibu dan  Anak

Petugas kesehatan hendaknya menjadi orang terdekat  yang mampu menyampaikan segala imformasi  tersebut dan mempertahankan hubungan timbal balik.

Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdiri dari beberapa kegiatan utama yaitu salah satunya kedudukan dan fungsi bidan terutama bidan desa. Bides sebagai staf puskesmas di desa yang berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan khususnya pelayanan KIA termasuk KB diwilayah desa tempat tugasnya dan melakukan pelayanan secara aktif, juga melakukan pelayanan keliling serta kunjungan rumah sesuai dengan kebutuhan.

4.1. 1. Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan K4) dan Deteksi risiko Tinggi

Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapat pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran Ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekalipada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Target pencapaian K4 menurut Indonesia Sehat 2017 adalah 98 %, untuk Puskesmas Seulimeum pada tahun 2018  cakupan K1 304 (98,4%), sudah mencapai target yang diharapkan. K4 262 (78,7%), ini belum mencapai target yang diharapkan,ini disebabkan masih banyak ditemukannya ibu hamil K1 akses. Ini dikarenakan  sebagian besar ibu merasa malu bila kehamilannya diketahui oleh orang lain terlalu dini.

4.1.2. Persalinan Oleh Nakes dan Kunjungan Nifas

Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

Menurut data dari desa yang dikumpulkan dari  Puskesmas Seulimeum pada tahun 2018, persentase persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai target yang diharapkan , yaitu sebesar 87 %.

4.1.3. Kunjungan Neonatus dan Bayi

Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya Kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari). KN  ini dilakukan sebanyak  3 kali yaitu KN 1 dilakukan 6-48 jam paska lahir, KN 2 dilakukan 3-7 hari kemudian dan KN 3 8-28 setelah KN2.              

Jika neonatus telah mendapatkan 3 kali KN di sebut KN lengka.Dalam pelaksanaan pelayanan neonatus, petugas kesehatan disamping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu termasuk ASI Eksklusif. Menurut data dari setiap gampong pada tahun 2017,  persentase kunjungan neonates ( KN Lengkap) sebesar 100 %.

4.1.4. Akseptor Keluarga Berencana dan Distribusi Alat Kontrasepsi

Pada tahun 2018 persentase peserta KB  Aktif di wilayah kerja Puskesmas Seulimeum sebesar 1.118 orang,  atau( 5,8 %) dan peserta KB baru sebesar 137 ( 47,3 %) dari 2365  pasangan usia subur. Target Indonesia Sehat tahun 2016 sebesar 70 %.

 Jenis alat kontrasepsi yang paling diminati oleh masyarakat adalah Non Metode Kontrasepsi Jangka Pannjang (Non MKJP) terutama metode suntik sebesar 45,9 %, pil 16,4 %,IUD sebesar 11 %,   Implan sebesar 4 %, komdom sebesar 21,4 %.                     

Sedangkan  kontrasepsi MKJP kurang diminati karena berhubungan privasi pasien (dalam pemahaman membuka aurat).

4.1.5. Cakupan Vitamin A pada Bayi, balita dan Ibu Nifas

Tujuan utama program penanggulangan KVA (Kurang Vitamin A) yaitu untuk menurunkan prevalensi Xerophtalmia melalui kegiatan penanggulangan defisiesi vit A  setiap 6 bulan sekali, pendidikan di posyandu dan fortifikasi bahan makanan yang banyak dikonsumsi anak balita dengan vitamin A.

Pemberian satu kapsul vit A pada ibu setelah melahirkan bertujuan meningkatkan kadar vitamin A dalam ASI bagi ibu dalam 1 - 2 minggu. Disampi

Editor : PUSKESMAS SEULIMEUM

Related Posts