PROFIL PUSKESMAS MESJID RAYA

 

Profil Puskesmas Mesjid Raya 

10_PENYAKIT_TERBANYAK

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

 

Reformasi bidang kesehatan telah menetapkan Visi pembangunan kesehatan yang tercermin dalam motto Indonesia Sehat . Hal ini juga ditentukan oleh pencapaian Kabupaten Sehat, Kecamatan Sehat, bahkan pencapaian Desa sehat.

 

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat  adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan yang optimal dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Hal ini ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.

 

Komitmen nasional yang menetapkan Indonesia Sehat 2025 telah mendorong setiap kabupaten/kota untum memacu dan meningkatkan kinerja program terutama penataan kembali Sistem Informasi Kesehatan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan angka kematia ibu, angka kematian bayi dan balita, meningkatkan status gizi serta menurunkan angka kesakitan terutama penyakit menular.

Program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini telah berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna, walaupun masih dijumpai berbagai masalah dan hambatan yang akan mempengaruhi pelaksanaan pembangunan kesehatan.

Adalah Puskesmas Mesjid Raya selaku pelaksana program pembangunan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar telah berupaya melaksanakan kegiatan semaksimal mungkin agar cakupan pelayanan bisa lebih baik dari tahun sebelumnya walaupun masih terdapat banyak kekurangannya dan  jauh dari sasaran yang diharapkan khususnya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, namun kami terus mengusahakan untuk bisa berbuat lebih banyak di tahun ini dan mendatang agar sasaran yang diharapkan dapat tercapai demi terwujudnya derajat kesehatan masyarakat  kecamatan Mesjid Raya yang lebih baik dan lebih maksimal. Pada dasar nya pelayanan kesehatan di Puskesmas Mesjid Raya telah menyentuh berbagai bidang program pelayanan yang telah di bina oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar. Adapun pelaksanaan program kesehatan 2025 tidak lagi terkendala akibat minimnya dana pembangunan yang dianggarkan Pemerintah Daerah ataupun Pemerintah Pusat. Permasalahan masih sama dengan tahun kemarin yaitu kurangnya tenaga kesehatan yang ada untuk melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan tersebut, apabila dibandingkan dengan luas wilayah kerja dengan jumlah penduduk yang cukup banyak. Untuk melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan, Puskesmas Mesjid Raya mendapat  Support dana dari pemerintah yaitu Bantuan Operasonal Kesehatan (BOK) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Untuk kegiatan promotif dan preventif dengan sasaran masyarakat dapat dilaksanakan dengan adanya Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan juga didukung dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang juga digunakan untuk mendukung kegiatan pelayanan dalam gedung dan kegiatan pelayanan luar gedung. Untuk kegiatan pelayanan dalam gedung berupa pengadaan alat-alat kesehatan dan obat- obatan untuk lebih memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga dapat menurunkan persentase rujukan ke Rumah Sakit Umum Daerah.

 

Dengan adanya bentuk bantuan tersebut bantuan sudah seharusnyalah Puskesmas Mesjid Raya dapat melaksanakan program kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kecamatan Mesjid Raya walaupun masih terdapat berbagai hambatan, yaitu ketersediaan tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan karena program dapat berhasil dengan baik tidak hanya bergantung dana yang tersedia tetapi juga jumlah petugas kesehatan yang ada, selain harus mendapat dukungan positif dari berbagai pihak, terutama dari masyarakat dan perangkat / aparatur pemerintahan yang ada di kecamatan Mesjid Raya.

 

Puskesmas Mesjid Raya selaku fasilitas pelayanan publik bidang kesehatan di wilayah kerja kecamatan Mesjid Raya senantiasa berusaha agar derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya meningkat setiap tahun.

 

 Pada tahun 2010 telah ditetapkan Qanun Kabupaten Aceh Besar tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, oleh sebab itu Puskesmas Mesjid Raya terus berusaha untuk dapat meningkatkan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat ke depan. Beberapa target pelayanan minimal yang telah dicapai di Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019 meliputi ;

> Pelayanan Ibu Hamil (K1) dan (K4), Pesalinan oleh Nakes Pelayanan Neonatus (KN1) dan KN3/lengkap, dan pelayanan ibu nifas (kF), Imunisasi TT Bumil dan pemberian Vitamin A untuk ibu nifas       

> Pelayanan Anak sekolah, Pelayanan Balita di Posyandu, Penyuluhan Kesehatan lingkungan, Pelayanan Bagi Lansia, pengobatan terhadap penyakit menular, Pelayanan Rawat Inap dan menurunkan prevalensi penyakit menular berpotensial wabah.                                               

Target pemerintah tersebut dikenal dengan Millenium Development Goal’s ( MDG’s), yaitu program dunia yang menjadi acuan untuk mengukur tingkat kemajuan suatu negara yang memfokuskan pada upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat perlu dukungan dan berbagai pihak terkait.

Profil kesehatan puskesmas dibuat dalam rangka sebagai sarana penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi tahunan kegiatan – kegiatan dan pemantapan pencapaian program untuk mencapai Millenium Develpment Goal’s ( MDG’s). Adapun Profil Puskesmas mencakup tentang data penduduk dan keadaan umum daerah, tenaga kesehatan, sarana obat, sarana lingkungan, serta pencapaian hasil usaha dibidang kesehatan.

Dalam Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.12 tahun 2007 dan Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2008 tentang kewajiban menyediakan  profil bagi setiap pelayanan publikpada akhir tahun untuk menyajikan pencapaian kinerja bidang masing-masing program pelayanan masyarakat.     

 

  • Maksud dan Tujuan

Tujuan umum penyusunan profil ini adalah untuk mengetahui derajat kesehatan dan pencapaian upaya pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya tahun anggaran 2019 berupa laporan evaluasi capaian indikator kinerja dari semua program kesehatan yang telah dilaksanakan. Adapun tujuan khusus adalah:

1.2.1. Sebagai urusan wajib penyelenggara pelayanan publik

1.2.2. Menyediakan informasi berbasis bukti (evidence base), berupa data lingkungan, prilaku masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan.

1.2.3. Menyajikan pencapaian kinerja tahun anggaran 2019, berupa cakupan kegiatan dan capaian kegiatan

1.2.4. Menyajikan pencapaian target SPM tahun 2019, berupa angka kesakitan, angka kematian dan status gizi masyarakat

 

1.3.     Ruang Lingkup

Data-data yang disajikan dalam profil ini mencakup beberapa hal, antara lain adalah:

1.3.1.Perkembangan wilayah, demografis dan sosial ekonomi.

1.3.2.Perkembangan Derajat kesehatan masyarakat, meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi.

1.3.3.     Cakupan Upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan kesehatan, PHBS dan kondisi lingkungan.

1.3.4. Perkembangan Sumber daya kesehatan mencakup distribusi SDM, sarana dan prasarana.

1.3.5. Alokasi Pembiayaan Kesehatan.

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1. Gambaran  Geografis

Secara administrasi Puskesmas Mesjid Raya merupakan salah satu Puskesmas yang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar.Kondisi geografisnya terdiri dari perbukitan dan pesisir pantai, dataran rendah dan garis pantai dengan ketinggian antara 0-1500 mdpl.

Luas wilayahnya mencakup129,93km² yang dibagi atas 13 gampong dan  2 Mukim, yaitu Kemukiman Lamnga dan Kemukiman Krueng Raya. Gampong  terluas adalah Gampong Lamreh dengan luas wilayah 39,40 km² atau sekitar 29% dari luas wilayah Kecamatan Mesjid Raya sedangkan Gampong yang paling kecil adalah Gampong Meunasah Keudee seluas 0,59 Km² atau 0,8% luas terhadap luas Kecamatan yang merupakanIbu Kota Kecamatan Mesjid Raya. Hampir seluruh Gampong dikawasan ini berada di daerah pesisir dan perbukitan, hanya gampong Ie seum yang 100% berada di perbukitan.

Beberapa daerah di wilayah Kecamatan Mesjid Raya memiliki ciri khas masing – masing, seperti di Desa Ie seum yang memiliki objek wisata air panas. Dalam bahasa Aceh, Ie seum  berarti air panas / mendidih. Air ini bersumber dari kaki perbukitan secara alami. Di Gampong Neuheun banyak terdapat tambak di sepanjang pesisir pantai  dan areal pembuatan garam di Gampong Lamnga. Gampong Lamreh terdapat Pelabuhan/dermaga bongkar muat barang yaitu Pelabuhan Malahayati  dan terdapat objek wisata sejarah yaitu kuburan Laksamana Malahayati, Benteng Kuta Inong Balee dan sisa peninggalan kerajaan Aceh yang bernama  Kerajaan LAMURI, selain itu juga terdapat objek wisata alam yaitu pasir putih.

Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan, buruh , petani cabe dan bawang merah disamping tanaman muda lainnya.

Adapun batas–batas wilayah kerja Puskesmas MesjidRaya adalah sebagai berikut:

>Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka;                             

>Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Montasik; >Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Seulimuem; >Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Baitussalam.

2.2. Perkembangan Kependudukan

Pertambahan penduduk Kecamatan Mesjid Raya tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya (2018), berdasarkan data dari BPS Kecamatan jumlah penduduk di Kecamatan Mesjid Raya pada tahun 2019 yaitu: 21.707 dengan komposisi jumlah laki-laki sebanyak 10.218 jiwa dan Jumlah perempuan sebanyak 11.489 jiwa, jumlah rumah tangga sebanyak 5.729 rumah dengan jumlah rata – rata anggota rumah tangga sebanyak 3 atau sudah mencapai kondisi ideal kepadatan rumah tangga dengan kepadatan penduduk per km2 adalah 2.

Angka Kelahiran di wilayah kerja Kecamatan Mesjid Raya pada tahun 2019 adalah 386 bayi (Lahir hidup) yang terdiri dari 209 bayi Laki-laki dan 174 Bayi Permpuan . Dinamika penduduk Kecamatan Mesjid Raya bila disusun berdasarkan hirarki golongan umur termuda (bayi) hingga golongan usia tua (lansia) akan terlihat bahwa komposisi penduduk hampir berimbang antara usia muda (anak-anak) dengan usia produktif (15-64 tahun). Dengan demikian struktur  usia muda dan usia produktif. Tingkat dependency ratio sebesar 50.88% sedangkan penduduk usia lanjut (Usia +60 tahun) sebesar 13,62% dari jumlah penduduk yakni sekitar 2.958 jiwa.

2.3. Sosial Budaya dan Lingkungan

Tingkat pendidikan rata-rata penduduk usia 10 tahun ke atas di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar sudah tidak tergolong rendah oleh karena dari 5.471 jiwa penduduk usia sekolah (5-19 tahun) sudah mendapatkan pendidikan dari TK sampai SMU sebanyak 4.697 jiwa dengan sebaran sebanyak 476 siswa TK, 2.569 siswa SD/MI, 1062 siswa SMP/Mts, dan 590 siswa SMU/SMK. Untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi sebagian masyarakat terkendala oleh biaya yang besar, ini dikarenakan penghasilan orang tua yang sebagian besar petani dan nelayan.

Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah sekolah berikut siswanya yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya Kec.Mesjid Raya tahun 2019.

Table 2.1

DATA SEKOLAH DAN SISWA

Di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya

No

Nama Sekolah

Jumlah Sekolah

Jumlah Siswa

1

TK

18

476

2

SD/MI

13

2.569

3

SMP/MTs

5

1062

4

SMU/SMK

2

590

 

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

 3.1.Angka Kesakitan

Tingginya insiden kasus penyakit infeksi dalam masyarakat dapat dilihat dari sepuluh penyakit utama rawat jalan di Puskesmas Mesjid Raya pada tahun 2019, dari 16.243 kunjungan yang dilaporkan per tahun atau rata - rata kunjungan perbulan adalah 1.350 kunjungan. Penyakit utama rawat jalan Puskesmas adalah, Common Cold (13%), Dyspepsia (11,37%), ISPA (10,80%), Penyakit Kulit Alergi (10,29%), Rhematoid Arthritis (1,66%), Diabetes Melitus (5,62%), Hypertensi (5,12%), Pulpitis (2,67%), Hypotensi (2,02%) dan Chephalgia (1,58%). Sementara itu dengan bertambahnya jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia di Puskesmas Mesjid Raya sebagai Puskesmas Perawatan, sejumlah pasien rawat inap juga dapat terlayani dengan baik, walaupun ada sedikit penurunan dari tahun 2018, jumlah pasien rawat inap tahun 2019 sebanyak 220 kasus dan ada  10 kasus yang harus dirujuk ke Rumah sakit.              

GRAFIK3.1.1

Sepuluh penyakit terbanyak tahun 2019

Dari hasil laporan surveillance diketahuI bahwa pada tahun 2019 sudah tidak terdapat  kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP)  atau kasus kelumpuhan non polio dari 5.221 jiwa penduduk beresiko yang berumur <15 tahun, terdapat 154 kasus diare yang ditangani dari 552 perkiraan kasus yang semuanya dapat ditangani dengan baik .

Pada tahun 2019,  terdapat insiden malaria (malaria positif) yaitu 1 kasus yang merupakan kasus import dari Papua, sedangkan pada ibu Hamil dan kelompok beresiko lainnya yang diperiksa sediaan darah di laboratorium tidak ditemukan kasus. Dari 22.087 jiwa penduduk hanya 70 kasus  yang di rujuk ke Laboratorium untuk pemeriksaan darah akibat demam. Harapan kami untuk tahun mendatang tidak akan ada lagi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya yang terjangkit Malaria.                                                                                                       

Pada tahun 2019 tercatat 14 kasus DBD yang terjadi di penghujung tahun 2019, dimulai dari bulan September sampai dengan Desember, dimana penderita terbanyak berasal dari Gampong Neuheun yakni 7 penderita yang terdiri dari 4 orang Laki laki dan 3 orang Perempuan. Sedangkan 7 orang penderita lainnya berasal dari Gampong Durung (1 penderita), Ladong ( 2 Penderita), Ruyung (2 penderita), dan Paya Kameng (2 penderita). Dalam hal ini menunjukkan kondisi lingkugan di Gampong Neuheun sangat lah tidak baik, kemungkinan besar terdapat adanya tempat perindukan/sarang nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).Dengan adanya kondisi ini mengharuskan petugas Penyuluh kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya untuk bekerja lebih giat lagi untuk memberikan penyuluhan kepada masyrakat agar menjaga lingkungan dengan lebih Baik supaya kedepannya tidak terjadi lagi hal seperti tahun ini..

            Berdasarkan laporan dari program kusta  ditemukan 1 kasus baru Kusta pada tahun 2019 dengan Tipe MB (Multi Basiler) atau Tipe basah dan sedang dalam proses pengobatan oleh petugas dengan jenis kelamin laki-Laki dari gampong Meunasah Mon dan  berusia diatas 14 tahun. Selain penyakit yang berbasis Vektor juga ada  penyakit kronis yang disebabkan oleh Bakteri seperti penyakit Tuberculosis Paru (TB Paru), yang termasuk dalam penyakit prioritas dalam 10 tahun terakhir, karena penyakit TB Paru identik dengan kemiskinan dan Higiene yang tidak memenuhi syarat  kesehatan. Dengan demikian  untuk memberantas penyakit ini harus bersamaan dengan adanya peningkatan taraf hidup masyarakat dan pengetahuan tentang kebersihan diri dan lingkungan sehingga mata rantai penyebaran penyakit dapat sedikit demi sedikit dihilangkan. Penyakit TB Paru disebabkan oleh Bakteri berbentuk basil (batang) tahan asam (BTA) yang bersarang di paru-paru manusia dan dapat dengan mudah menular melalui udara/pernafasan dan bisa juga melalui dahak/batuk yang dikeluarkan  penderita secara sembarangan di tempat terbuka. Masih tingginya angka penderita TB Paru lebih disebabkan oleh karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga jumlah masyarakat beresiko terinfeksi sangat tinggi apalagi pada laki laki yang rata rata orang Indonesia adalah Perokok Berat dan di perparah dengan resistensi bakteri varian ini terhadap antimikroba dikarenakan cara minum obat yang tidak sesuai anjuran sehingga terjadi Resistensi terhadap obat yang mengakibatkan penderita susah untuk sembuh dari penyakit ini. Di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya terdapat 19 kasus TB Paru yang dalam proses pengobatan yang berasal dari Gampong Neuheun, Gp. Baro, Ladong, Ruyung, Paya kameng, Mns. Keude, Mns. Kulam dan Lamreh dengan Jenis kelamin Laki-laki 14 orang dan Perempuan 5 orang. Untuk mencegah terus meningkatkan kasus TB Paru di Kecamatan Mesjid Raya masih harus dilakukan kegiatan Promosi kesehatan dan penjaringan Suspek penderita melalui kader-kader yang telah terbentuk yang dibina oleh lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap Pemberantasan Program ini, dan semoga kerja keras ini mendapat dukungan dari semua pihak sehingga penyakit TB Paru dapat secara perlahan menurun kasusnya.

 3.2.      Angka Kematian

            Angka Kematian Penduduk Dapat memperlihatkan gambaran derajat kesehatan masyarakat di suatu daerah ,karena tingkat kematian dipengaruhi oleh derajat kesehatan   masyarakat. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan perwujudan dari visi dan misi pembangunan di bidang kesehatan. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan SMDGs (Sustainable Development Goals) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Dalam SDGs, upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan pada Upaya Kesehatan Ibu dan Anak. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesehatan reproduksi. Untuk mencapai tujuan tersebut upaya yang ditempuh meliputi Upaya Keselamatan Ibu Melahirkan(Making Pregnancy Safer/MPS). Selama kehamilan seorang ibu perlu memperoleh serangkaian tindakan standar agar terwujud MPS demikian pula pada saat kelahiran. MPS merupakan program utama dalam Upaya Kesehatan Ibu dan Anak.Dari data yang dilaporkan BiKor (Bidan Koordinator) pengelola ruangan  KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak ) di wilayah kerja Puskesmas  Mesjid Raya tidak ditemukan adanya kematian Ibu Hamil dan Ibu Bersalin tetapi terdapat 1 kasus kematian Ibu Nifas, sedangkan kematian Balita ada 2 kasus dengan 1 kasus Bayi lahir Mati/Kematian Neonatal di Gampong Neuheun dan ada 1 kasus Kematian  Balita di gampong Beurandeh. Dari 383 bayi yang lahir tidak ditemukan adanya kasus BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah).

 

3.3       Status Gizi Balita

             Status Gizi  sangat mempengaruhi faktor tumbuh kembang seorang Balita karena merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraannya. Tumbuh kembang Balita pada dasarnya dimulai sejak ia dalam kandungan sang ibu sampai lahir dan berusia 2 tahun ( 1000 hari kehidupan pertama). Pemantauan status gizi sebelum lahir ketika ibu memeriksakan kehamilannya pada sarana kesehatan yang memiliki tenaga Bidan.

            Pada tahun 2019 ,tingkat kesejahteraan Balita sudah teridentifikasi dengan baik dikarenakan angka cakupan penimbangan rata-rata/bulan 80,3%. Dari 1.845 Balita yang dilaporkan sudah 80.3% yang ditimbang atau 1.482 Balita dan tidak adanya Balita Gizi Kurang (BGM). Keadaan ini  berbeda dari kondisi tahun 2018 yang ditemukan Balita dengan status gizi buruk sebanyak 7 kasus Balita, kondisi ini bisa disebabkan kinerja petugas kesehatan yang semakin baik sehingga sistem pencatatan dan laporan yang lebih baik  untuk itu masih dibutuhkan kerja keras dari petugas  secara berkesinambungan memantau status Tumbuh kembang Balita di Wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya .          

Seiring dengan semakin giatnya program kampanye ASI Ekslusif yang dilakukan oleh petugas kesehatan, menunjukkan hasil sangat baik. Ini terbukti dengan angka cakupan yang sedikit lebih meningkat pada tahun ini dibandingkan tahun 2018.

.ASI Eklusif adalah pemberian ASI (Air Susu Ibu) saja pada bayi baru lahir sampai berumur 6 bulan. Pada tahun 2019, dari  2.556 Bayi yang berumur 0– 6 bulan yang mendapat ASI Eklusif sebanyak 1.746 Bayi atau sekitar 68%. Semua ini tidak terlepas dari peran petugas kesehatan yang terus membimbing ibu untuk memberi yang terbaik untuk Bayi, dimulai sejak bayi baru lahir melalui IMD (Inisiasi Menyusui Dini ) dilanjutkan dengan konseling ASI oleh tenaga  Gizi yang ada di Puskesmas Mesjid Raya.

Jumlah angka cakupan Status Gizi Bayi di Puskesmas Mesjid Raya tahun 2016 dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 3 3

Jumlah cakupan Status Gizi Bayi tahun 2019

 BAB IV

UPAYA KESEHATAN

 4.1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

4.1.1   Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Melahirkan

Derajat kesehatan dapat tercapai seiring dengan  Semakin tinggi tingkat kesejahteraan dan pengetahuan masyarakat  tentang kesehatan itu sendiri. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat kesejahteraan, maka makin rendah tingkat kematian khususnya kematian ibu Hamil, ibu bersalin, bayi dan balita. Keadaan ini disebabkan semakin tingginya tingkat kesadaran seorang ibu untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dari awal kehamilan sampai melahirkan ke sarana kesehatan yang ada baik itu Puskesmas atau bidan Polindes sehingga faktor resiko tinggi lebih cepat terdeteksi seperti kasus Ibu hamil dengan Anemia ringan , anemia  sedang yang dapat dicegah dengan pemberian tablet Fe / tablet besi selama kehamilan. Pada kasus Ibu Hamil dengan KEK (Kurang Energi Kalori) tersedia PMT (Pemberian Makanan Tambahan ) berupa Susu Ibu Hamil yang ditanggulangi  melalui dana Program BOK Puskesmas Mesjid Raya. Disamping itu juga ada Program Integrasi dengan bidang lain seperti pemeriksaan HB, Gol.Darah dan Malaria pada ibu hamil pada awal – awal Kehamilan (K1) serta pemberian Kelambu untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh gigitan Nyamuk seperti Malaria dan DBD dan juga tersedia Imunisasi TT Ibu Hamil baik itu TT1,TT2,TT3,TT4,TT5 dan TT2+  untuk melindungi ibu hamil dari penyakit Tetanus dan pemberian Vitamin A setelah melahirkan / ibu nifas bahkan sampai Program KB Pasca Salin. Apabila ada kasus yang sudah tidak dapat tertangani di Puskesmas atau Bidan di Desa, maka akan segera dirujuk ke Fasilitas yang lebih lanjut / RSU yang ada di ibu kota Provinsi Aceh karena keberadaan Puskesmas Mesjid Raya lebih dekat dengan ibu kota Provinsi dari pada ibukota Kabupaten.

Dari laporan kinerja KIA diketahui bahwa cakupan kunjungan ibu hamil pada tahun 2019 mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2018. Pada tahun  ini cakupan pelayanan ibu hamil (K1) sebesar 65.10 % dan (K4) sebesar 58,50%, Pelayanan Neonatus (KN1 sebesar 100 % dan KN3/lengkap sebesar 96,6 %), Persalinan oleh Nakes  sebesar 65.40 % dan pelayanan ibu nifas (KF3) sebesar 65,40% , pemberian Vitamin A untuk  ibu nifas sebesar 65,40% serta persentase cakupan imunisasi TT2+  pada ibu Hamil sebesar 49,2% dan persentase Ibu Hamil yang mendapat Tablet Fe sebesar 58,47% dengan cakupan penanganan Ibu Hamil dengan Komplikasi/Resti sebesar 7%. Angka Cakupan pelayanan pada Ibu Hamil dapat kita lihat dalam Grafik dibawah ini:

Grafik.41 1

Persentase Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil                       Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019

           Dari angka cakupan persalinan yang ada pada grafik diatas menunjukkan angka persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dalam hal ini Bidan  diwilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya seluruhnya ditangani oleh Tenaga Kesehatan,dari 58,50% angka cakupan K4 sebesar 65.40% persalinan sudah ditolong Nakes.

4.1.2      Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita. 

               Laporan kinerja KIA untuk pelayanan kesehatan Bayi pada tahun 2019 sudah menunjukkan angka yang cukup baik dengan angka cakupan kunjungan Neonatus sudah 100% (KN1) dan (KN3) sebesar 96.6%, sedangkan angka cakupan Neonatus dengan Komplikasi yang ditangani sebesar 2,2% ini menunjukkan Kinerja Bidan yang bertugas di  Desa sudah cukup baik.

Setelah bayi mendapatkan pelayanan kunjungan Neonatus untuk perkembangan status perkembangan bayi dapat dipantau melalui Pos Pelayanan Terpadu ( Posyandu ) yang ada di setiap Gampong dibawah binaan Puskesmas Mesjid Raya dimana melibatkan Masyarakat langsung /Kader yang merupakan sumber daya yang tersedia di masyarakat itu sendiri. Kegiatan pokok di Posyandu adalah Penimbangan berat badan Bayi yang dilakukan rutin setiap bulan (Minimal 8X setahun), karena dengan penimbangan akan mudah memantau pertumbuhan  Bayi dan Balita yang akan terlihat melalui KMS. Selain penimbangan juga ada Imunisasi dasar bagi Bayi sebelum berumur satu tahun, disamping itu juga ada pemberian Vitamin A Dosis tinggi untuk Bayi dan Balita dan pemberian Obat Cacing untuk Balita yang berumur diatas  2 tahun. Pada tahun 2019 angka cakupan pelayanan Bayi dan Balita Meliputi: Cakupan Jumlah Balita Ditimbang 80,3% dari 1.845 Balita yang dilaporkan atau sekitar 1.482 balita, jumlah Cakupan Kunjungan Neonatus (KN1) sebesar 100 % dan cakupan KN3/Lengkap) sebesar 96,6%, cakupan Pelayanan kesehatan Bayi sebesar 56.1%, cakupan  pemberian Vitamin A dosis   tinggi untuk bayi 6 – 11 bulan sebesar 99,65% dan untuk anak Balita sebesar 98,44 % pada bulan Februari dan Agustus.

Grafik dibawah ini menunjukkan angka Cakupan Pelayanan kesehatan Bayi dan Balita di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya

Grafik 4.1.2.1

Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita

Puskesmas Mesjid Raya th 2019

 Untuk Program Imunisasi dasar pada bayi ( 0 – 11 bln ) juga merupakan indikator penting dalam tumbuh kembang seorang Bayi/Balita, oleh sebab itu Pemerintah berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatan angka cakupan Imunisasi bagi Bayi dan hasilnya belumlah menggembirakan dikarenakan angka cakupan Imunisasi belum semuanya mencapai angka 80%. Pada tahun 2019 angka cakupan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya mengalami penurunan dari tahun lalu, dari 610 Bayi yang lahir hidup  sebanyak 271 bayi di Imunisasi BCG ( 44,43% ) dan 376 Bayi mendapat Imunisasi HB0 atau sebesar 61,64%. Dari 610 jumlah bayi pada tahun  2019  Mendapat Imunisasi DPT+HB+Hb3 sebanyak 3136 bayi (22,3%), Polio4 sebanyak 276 (45,2%), dan Campak 60 bayi (9,8%) dengan 1 desa UCI, yaitu Gampong Baro. Dengan angka ini menunjukkan ada penurunan jumlah desa UCI dari tahun 2018  yang berjumlah 8 desa.

Grafik dibawah ini menunjukkan angka cakupan Imunisasi di Puskesmas Mesjid Raya tahun 2018 dan 2019.                                                 

Grafik  4.1.2.2

Cakupan Imunisasi Dasar Puskesmas Mesjid Raya  tahun 2018 s/d 2019

 Selain Imunisasi dasar pada Bayi Puskesmas Mesjid Raya juga malaksanakan program Imunisasi  TT (Tetanus Toxoid) pada WUS (Wanita Usia Subur ) dan Ibu Hamil. Dari 514 Jumlah Ibu Hamil di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya, sebanyak 121 ibu mendapat TT1 (25.1%), TT2 sebanyak 101 Ibu (19.6%), TT3 sebanyak 60 Ibu ( 11,7%), TT4 sebanyak 45 ibu (8.8%), TT5 sebanyak 79 Ibu (15.4%) dan TT2+ sebanyak 285 Ibu (55.4%). Sedangkan jumlah WUS pada tahun 2019 sebanyak  3.106. Imunisasi TT berguna mencegah penyakit Tetanus yang disebabkan Infeksi pada Ibu Hamil agar tidak mengalami permasalahan pada saat melahirkan.            

Grafik dibawah ini menunjukkan angka pencapaian Imunisasi TT pada ibu hamil di Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019.

GRAFIK  4.1.2.3                                                                                               Perbandinagn Cakupan Imunisasi TT  BUMIL tahun 2018 dan 2019

4.1.3. Pelayanan Akseptor KB

Jumlah peserta Program Keluarga Berencana (KB) dalam beberapa dekade ini makin meningkat. Pola distribusi akseptor merata di seluruh Gampong. Pada tahun ,2019 jumlah PUS (Pasangan Usia Subur )di Wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya sebanyak 4.125 pasangan dengan pertumbuhan Akseptor baru sebanyak 384 orang (9.3%), Jumlah akseptor Aktif 2.690 orang ( 65.2%). Jenis alat kontrasepsi yang paling diminati oleh masyarakat adalah Non Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (Non MKJP) sedangkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) masih kurang diminati. secara berturut-turut alat kontrasepsi Non MKJP yang terbanyak adalah KB suntik 49,2% (1.329 peserta), pil 37% (998 peserta),dan Kondom 0,9% (25 peserta). Sedangkan kontrasepsi MKJP terbanyak meliputi IUD 6,9% (185 peserta), Implant 3,7% (99 peserta), MOW 2,4% (64 peserta), dan Mop tidak ada peserta.

Grafik berikut mengambarkan Jenis alat Kontrasepsi yang digunakan Akseptor KB baru dan Akseptor KB Aktif Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019

                                    Grafik 4.1.3.1                                   

Persentase Peserta KB  dengan Alat Kontrasepsi yang digunakan       Di Puskesmas Mesjid Raya Tahun 2019

 4.2.      Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Pada tahun 2019, program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi penduduk di wilayah Kabupaten Aceh Besar masih ditangani oleh program JKN yang pengelolaan di laksanakan oleh BPJS Kesehatan, baik itu peserta dari program Jamkesmas/KIS (Pemerintah Pusat) ataupun Program JKA (Jaminan Kesehatan Aceh) dari Pemerintah daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Jumlah penduduk miskin dan hampir miskin di Kecamatan Mesjid Raya pada tahun 2019 mencapai angka 80 % dari jumlah penduduk yaitu dari 22.087 jiwa, sudah 20.582 jiwa (91,1%) yang terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Baik itu sebagai peserta PBI (penerima Bantuan Iuran) yang merupakan masyarakat yang kurang mampu maupun sebagai peserta non PBI/PPU yang terdiri dari PNS, TNI/POLRI, Pensiunan, peserta JAMSOSTEK/Karyawan Swasta. Pelayanan Kesehatan bagi peserta berlaku di wilayah Fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang sesuai dengan tempat domisili peserta atau yang di tunjuk Perusahaan dimana pekerja menerima upah, yang akan terdeteksi melalui aplikasi online (Pcare).       

 Adapun jenis pelayanan kesehatan gratis yang dapat dilakukan oleh

 Puskesmas Mesjid Raya sebagai FKTP meliputi:

1.Rawat Jalan Tingkat pertama/Poli umum

2.Pelayanan rujukan tingkat lanjut ke FKTL/Rumah sakit type B

3.Pelayanan Gawat Darurat (IGD)

4.Ambulance untuk pasien Rujukan Emergency

5.Persalinan oleh Bidan Desa dan Jejaring

6.Pelayanan KIA / KB

7.Pelayanan MTBS ( 0 -5  tahun)

8.Imunisasi

9.Pelayanan Konsultasi Gizi/PMT

10.Pelayanan Laboratorium

11.Penyuluhan Kesehatan

12.Pelayanan Rawat Inap serta Administrasi

Sepanjang tahun 2019 jumlah pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Mesjid Raya sebanyak 16.243 orang. Hal ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan tahun 2018  (sebanyak 37.309 kunjungan ) atau ada penurunan sebanyak± 43,5% dari tahun lalu. Dari jumalh tersebut ada sebanyak 220 pasien yang harus mendapatkan pelayanan rawat inap dengan berbagai jenis penyakit seperti : Dyspepsia, Obs. Febris, BM Type II, GEA, Hipertensi, Malaise, Gastritis, dll. Kondisi ini menggambarkan derajat kesehatan di Kecamatan ini belum begitu baik, selain di satu sisi menunjukkan bahwa semakin baik pelayanan yang diberikan petugas kesehatan di Puskesmas Mesjid Raya sehinnga masyarakat memilih Puskesmas sebagai  sarana pelayanan kesehatan selain Praktek Dokter dan Bidan swasta. Dari  sejumlah kunjungan terdapat kunjungan dengan pola penyakit utama rawat jalan yaitu Common Cold, Dyspepsia, ISPA, Penyakit Kulit Alergi, Peny.jaringan otot/Rheumatik, disusul dengan Diabetes Melitus serta Penyakit Hypertensi. Kondisi ini disebabkan jauhnya masyarakat  dari prilaku  atau pola hidup sehat dan diiringi dengan pola makan yang tidak sehat yang  menyebabkan semakin tingginya angka penyakit tidak menular (PTM) seperti , Hypertensi, Diabetes Mellitus. Program pelayanan Usila pun masih berjalan di Puskesmas Mesjid Raya  dan mampu melayani Usila sebanyak 2168 orang atau 73,29% dari jumlah Seluruh Usila (2.958 orang).

 

4.3.     Perilaku Hidup Masyarakat

Pada tahun 2019 terjadi penurunan angka penyakit Diare yang menyerang Masyarakat mulai dari anak - anak sampai dewasa yaitu sebanyak 154  kasus diare yang ditangani dari 552 jumlah perkiraan kasus dengan angka kesakitan Diare per 1000 penduduk sebanyak 2789 orang,yang berarti ada perbedaan signifikan dibandingkan tahun 2018 yaitu 261 kasus.

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tingkat rumah tangga belum teraplikasi sepenuhnya sedangkan PHBS tingkat institusi (Sekolah, Kantor, Tempat-Tempat Umum) belum terlaksana sama sekali. Pada tahun 2019, cakupan Rumah Tangga ber-PHBS mengalami sedikit peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu 44% ( 115 rumah) dari  260 rumah yang diperiksa dari seluruh jumlah rumah yang ada (5.729 rumah tangga) di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya. Selain PHBS tingkat Rumah Tangga yang memenuhi syarat rumah sehat mengalami peningkatan tajam pada tahun ini yakni terdapat 397 rumah yang dibina, 124 rumah yang dibina memenuhi syarat.

BABV

SUMBER DAYA KESEHATAN

 5.1.     Sarana Kesehatan

Hingga tahun 2019, penyelenggaraan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar masih didominasi oleh milik pemerintah sedangkan sektor swasta tidak mengalami peningkatan. Terdapat 1 unit Puskesmas induk dan 3 unit Puskesmas Pembantu dan 11 Polindes yang tersebar di 13 gampong. Disisi lain jumlah pelayanan kesehatan yag diselenggarakan oleh swasta meliputi 1 praktek dokter,1 klinik bersama dokter, 3 praktek bidan swasta atau Klinik bersalin  dan 1 praktek perawat. Puskesmas induk berada di ibu kota Kecamatan Mesjid Raya yakni di gampong Meunasah Keudee dengan status Puskesmas Rawat Inap / rawatan, sedangkan Puskesmas Pembantu berada di gampong lamnga 1 unit, gampong Neuheun dan Ladong masing-masing 1 unit. Adapun Polindes ada 2 unit di Neuheun,dan selebihnya ada di Gampong baro,Durung,Ruyung, Paya Kameng, Beurandeh, Meunasah Kulam,Meunasah Mon, Lamreh dan Ie seum.

 5.2.     Jumlah UKBM dan Posyandu

Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sulit dicapai jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Untuk itu perlu dukungan partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat di bidang kesehatan dapat diukur dari beberapa indikator, antara lain adalah strata Posyandu, strata desa (gampong) siaga dan PHBS. Target partisipasi masyarakat dalam posyandu sebesar >60% posyandu, semua posyandu yang ada diwilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya berstrata Madya dengan rasio Posyandu per 100 balita adalah 1. Gambaran partisipasi masyarakat Kecamatan Mesjid Raya di sektor kesehatan mulai mengalami sedikit perubahan yang ditunjukkan dengan aktif nya  posyandu di gampong - gampong di Kecamatan Mesjid Raya. Berbagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terus dilakukan baik dengan cara melakukan penyuluhan tentang pentingnya keberadaan posyandu bagi tumbuh kembang bayi dan balita serta ibu hamil. Selain itu di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya terdapat desa siaga yaitu Desa/gampong Ruyung dan Ie seum namun yang sudah termasuk desa Siaga aktif disesuaikan dengan kriterianya hanyalah desa Ruyung.

 5.3. Ketersediaan Obat

Adapun faktor penting dari suksesnya pelayanan kesehatan adalah obat-obatan. Tingkat kebutuhan obat-obatan tiap tahunnya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas dan peningkatan kapasitas Puskesmas. Jenis obat yang dikelola oleh Dinas Kesehatan mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yaitu golongan obat generik berlogo sebesar 100%. Obat-obatan yang digunakan berasal dari GFK (Gudang Farmasi Kabupaten ) Dinas Keshatan Kbupaten Aceh Besar yang dilakukan pengamprahan oleh petugas Farmasi Puskesmas  ke Dinas Kesehatan Kabupaten dalam jangka waktu 2 bulan sekali secara terjadwal walaupun terkadang belum sampai 2 bulan pemakaian, ada beberapa jenis obat yg telah habis. Ini dikarenakan jumlah kunjungan pasien yang berobat ke semua sarana kesehatan pemerintah di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya dalam hal ini Pustu dan Poskesdes semakin hari semakin meningkat. Untuk menanggulangi kenyataan tersebut , maka dapat digunakan dana JKN yang tersedia di Puskesmas untuk mengatasi kekurangan obat-obatan dan menambah obat-obatan yang tidak tersedia dari GFK disesuaikan dengan kebutuhan dari Puskesmas dengan cara mengusulkan pembelian obat ke Tim Verifikasi JKN Kabupaten Aceh Besar.

 

 

 

 

5.4     Tenaga Kesehatan

Selain fasilitas Kesehatan dan obat-obatan Tenaga Kesehatan merupakan unsur utama yang mendukung terselenggaranya pelayanan kesehatan. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan yang tersedia seharusnya adalah tenaga kesehatan yang bermutu dan jumlahnya cukup untuk melayani masyarakat di Kecamatan Mesjid Raya. Untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, dari pihak Puskesmas Mesjid Raya berharap Dinas kesehatan Kabupaten Aceh Besar lebih memperhatikan pendistribusian tenaga kesehatan secara merata termasuk ke Puskesmas Mesjid Raya yang jauh dari jangkauan fasilitas kesehatan tingkat lanjut seperti Rumah Sakit dan Praktek Dokter Swasta. Adapun jumlah tenaga Kesehatan yang tersedia di Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019 dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

Tabel  5 4 1

Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Mesjid Raya

Tahun 2019

No

Jenis ketenagaan

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

1

Dokter Umum/Medis

 

2

2

2

Dokter Gigi

 

1

1

3

Nurse/S.Kep

 

1

1

4

Sarjana Kes Mas

 

4

4

5

Perawat

 

6

6

6

Perawat Gigi

 

0

0

7

Bidan

 

25

25

8

Analis

 

2

2

9

As.Apoteker

 

1

1

10

Nutrisionist/Gizi

 

2

2

11

Supir/CS (Honorer)

1

2

3

12

Tenaga Bakti

3

8

11

5.5     Sumber dana/Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan menjadi komponen kunci keberhasilan palayanan kesehatan. Seiring dengan mahalnya harga pelayanan kesehatan menuntut pembiayaan kesehatan yang semakin mahal pula. Oleh karena itu, sumber pembiayaan kesehatan haruslah sebanding dengan tuntutan peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Untuk tahun 2019, Puseksmas Mesjid Raya terdapat alokasi dana dari Program BOK (Bantuan Operasional Kesehatan), yang digunakan untuk pelayanan kesehatan di luar gedung yang bertujuan untuk pencapaian MDG’s dan JKN ( Jaminan Kesehatan Nasional), yang banyak digunakan untuk penyediaan segala hal yang berkaitan pelayanan kesehatan dalam gedung dan juga luar gedung.

Tabel 5 5 1

Jumlah dan Sumber dana penunjang Program

Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019

 

No

Sumber dana

Jumlah

 

 

1

 

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

 

Rp. 1.102.448.300,00

2

Bantuan Operasional Kesehatan

 

Rp. 811.782.500

 

3

Dana Operasional Puskesmas

 

Rp. 66.734.200

 

 

 BAB VI

PENUTUP

Dari data profil tahun 2019 ini adanya beberapa program kegiatan belum mampu diselesaikan dengan baik sesuai target standar minimal yang telah ditetapkan, antara lain adalah:

  1. Masih adanya angka kematian bayi terutama bayi lahir mati walaupun pelayanan ibu bersalin sudah dilakukan oleh tenaga kesehatan.
  2. Masih terus terjadi penyebaran penyakit menular yang berpotensial wabah seperti diare sehingga menjadi masalah kesehatan di lingkungan masyarakat.
  3. Cakupan sanitasi dasar (rumah, jamban, Saluran Pembuangan limbah/SPAL, Sumber Air Bersih/SAB, pengawasan Tempat-Tempat Umum/TTU,Tempat Pengolahan Makanan/TPM, yang memenuhi syarat kesehatan masih di bawah target Standar Minimal Pelayanan Kesehatan.
  4. Tingkat Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) masih harus ditingkatkan.
  5. Kegiatan pelayanan kesehatan di tingkat Posyandu belum efektif yang terlihat dari kurangnya cakupan D/S sehingga penjaringan kasus balita dengan gizi kurang dan gizi buruk belum maksimal..

Untuk lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya dari Puskesmas Mesjid Raya, dalam profil Kesehatan Puskesmas Mesjid Raya tahun 2019 yang telah kami susun terdapat lampiran data riel dalam bentuk tabel – tabel program kerja tahun 2019 yang ada di Bab akhir buku ini. Semoga keberadaan profil ini bermanfaat bagi kemajuan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Mesjid Raya khususnya.

BAB VII

L A M P I R A N

 

Editor : PKM MESJID RAYA

Related Posts