Profil Puskesmas Kuta Baro

10_penyakit_terbanyak_2019

BAB I

GAMBARAN UMUM

1.1.   Gambaran Geografis

Secara administrasi Puskesmas Kuta Baro merupakan salah satu Puskesmas Kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dengan katagori Pedesaan dan Puskesmas dengan Status Rawat Inap.

Luas wilayahnya mencakup 61,07 km2 yang dibagi atas 47 desa dan 152 dusun. Adapun desa yang terluas adalah desa Puuk yang memiliki luas wilayah 7,59 km2 atau sekitar 4,63% dari luas wilayah Kecamatan Kuta Baro sedangkan desa yang paling kecil luas wilayahnya adalah desa Lamtebee Geupula seluas 0,13 km2 atau sekitar 0,07% dari luas wilayah Kecamatan Kuta Baro.

Adapun batas – batas wilayah kerja puskesmas  Kuta Baro  sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas  Darussalam, Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas  Ingin Jaya dan wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang, Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas  Krueng Barona Jaya, Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas  Blang Bintang dan wilayah kerja Puskesmas  Mesjid Raya

Berdasarkan letak geografisnya Kecamatan Kuta Baro merupakan suatu wilayah yang terletak pada dataran tinggi dimana hampir sebagian lahan yang ada digunakan sebagai areal persawahan  dan perkebunan yang merupakan sumber pendapatan masyarakat setempat dengan mata pencahariannya  sebagai  petani.

1.2.   Perkembangan kependudukan

Pertumbuhan penduduk Kecamatan Kuta Baro tergolong katagori tinggi, pada tahun 2019 jumlah penduduk berjumlah 28. 419  jiwa,dengan jumlah perbandingan jenis kelamin (sex rasio) yaitu laki–laki  13.935 jiwa dan perempuan 14.484 jiwa dengan perbandingan sex rasionya adalah 96,2, sedangkan rata – rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4,7  dari 6.095  Rumah Tangga atau sudah mencapai kondisi ideal kepadatan rumah tangga.

Pada tahun 2019 jumlah kepadatan penduduk adalah 465 Km2, ratio beban tangungan dari masing- masing keluarga adalah 38 %, hal inimenunjukkan  bahwa program  pengendalian penduduk di wilayah Kecamatan Kuta Baromasih cukup tinggi hal ini bisa disebabkan karena program Keluarga Berencana belum berjalan maksimal dan  juga masih banyak keluarga yang berasumsi banyak anak banyak rezeki, hal ini ditakutkan akan berefek kepada perekonomian keluarga  dan juga status gizi keluarga.

Dinamika penduduk Kecamatan Kuta Baro bila di susun menurut hirarki golongan umur termuda (Bayi) hingga golongan tua (Lansia) akan nampak bahwa komposisi penduduk terbanyak pada usia muda di mana struktur ini merupakan usia yang produktif, dimana usia produktif ini bisa meningkatkan perekonomian keluarga

Tingginya pertumbuhan ekonomi bisa berdampak meningkatnya kesejahteraan keluarga dan masyarakat, dimana usia produktif ini menangung atau menjadi tulang punggung bagi kelompok usia yang tidak produktif ( lansia ). Pada tahun 2019  jumlah  penduduk lansia ( > 60 Tahun)  berjumlah 15.475 jiwa, namun yang mendapatkan pelayanan lansia terus meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 469 orang atau 27,7  % menjad 2.567 atau 16,6 %, Penduduk Lansia sangatlah rentan terhadap  berbagai penyakit degenerative seperti gangguan sendi dan jaringan ikat, hipertensi, dyspepsia dan diabetes melitus, pada  tahun 2019 yang  menjadi desa binaan lansia berjumlah 26yaitu; Desa Lam Sabang, Lam Puuk, Lambro Bileu, Lam Glumpang, Lam Asan, Lamceu, Cot Mancang, Tumpok Lampoh, Cucum, Lam Raya, Cot Lamme, Cot Masam, Lambro Deyah, Deyah, Beurangong, Cot Peutano, Meunasah Baktrieng, Lamneuheun, Lambaed, Gue, Cucum, Cot Raya, Lamtrieng, Lamteube Geupula, Lamseunong, Puuk dan Seupeu

 

2.3.   Sosial Budaya dan Lingkungan

Pada tahun 2019 tingkat pendidikan masyarakat Kuta Baro sudah lebih baik dibandingkan dari tahun sebelumnya, hal ini dapat kita lihat dari persentase penduduk yang berumur 15 tahun keatas yang melek huruf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GRAFIK1.2.1

PERSENTASE  PENDUDUK YANG BERUMUR 15 TAHUN

 KEATAS YANG MELEK HURUF

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

Tingkat pendidikan rata – rata penduduk usia 15 tahun ke atas di Kecamatan Kuta Baro tergolong sudah baik di mana penduduk yang melek Huruf  umur 15 tahun keatas adalah 91,4 %, dimana masyarakat yang pendidikannya sudah menyelasaikan SMU/ MA adalah 43,9 % dan yang tamatan S2/S3 hanya 0,1 %, hal ini dapat kita lihat pada grafik dibawah ini;

 

GRAFIK1.2.2

PERSENTASE TINGKAT PENDIDIKAN

 PENDUDUK   BERUSIA 15  KEATAS

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

Berdasarkan data dapat kita lihat bahwa  tingkat pendidikan rata – rata penduduk sudah semakin baik hal ini juga berarti bahwa tingkat  tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki juga mengalami perubahan.

Sarana Air Bersih ( SAB )  yang ada di wilayah Kec Kuta Baro adalah 4.454 sumur yang digunakan untuk keperluan hari- hari seperti Mandi, Mencuci dll, untuk jumlah sarana air  minum yang ada berjumlah  705 buah dan jumlah sarana air minum dengan resiko rendah dan sedang berjumlah 274 buah ( 38,9  % ), jumlah rumah yang ada di wilayah Kuta Baro adalah 6,095, jumlah masyarakat yang mengunakan jamban sehat adalah 1.009  ( 15,3% ).

 

 

 

 

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

 

 

3.1.   Angka Kesakitan

 

Kecamatan Kuta Baro termasuk katagori Daerah Perdesaan dengan status Puskesmas Rawat inap, Puskemas  Kuta Baro Memiliki 1 Unit Gedung Puskesmas Induk, 3 Unit Pustu ( Puskesmas Pembantu ), 26 Unit Polindes dari 47 Desa

Pada tahun 2019 jumlah kunjungan rawat jalan di puskesmas Kuta Baro berjumlah 31.125  kasus, yang terdiri dari jumlah kunjungan laki- laki  10.995 kasus dan perempuan 20.130 kasus. Jumlah kunjungan Rawat Inap adalah 717 Kasus, dimana Laki- laki 255 kasus dan perempuan462  kasus .

Gambaran umum pola penyakit  yang terjadi di wilayah Puskesmas Kuta Baro didominasi oleh penyakit non infeksi, hal ini dapat kita lihat pada Tabel 10 Penyakit terbanyak berikut ini;

 

TABEL 3.1

JUMLAH 10 PENYAKIT TERBANYAK

DI PUSKESMAS KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

NO

 

JENIS PENYAKT

 

LAKI-LAKI

 

PEREMPUAN

 

JUMLAH

1

Commond Cold

2.522

3.017

5.539

2

Sakit Lambung

1.104

2.806

3.910

3

Sakit Sendi

1002

1235

2.237

4

Gatal Alergi

702

711

1.413

5

Hipertensi

501

623

1.124

6

Diabetes Mellitus

233

498

731

7

Gatal Infeksi

208

300

508

8

Ispa

152

206

358

9

Diare

122

166

288

10

Asma Brochiale

72

55

127

 

Berdasarkan tabel diatas menjelaskan bahwa penyakit terbanyaktahun 2019 adalah Commond Cold ( 5.539 Kasus ) dan paling terendah adalah Asma Brochiale( 127 kasus ) .

Berdasarkan data  survalance puskesmas Kuta Baro  untuk kasus Diare terjadi penurunan dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2019 jumlah kasus diare yang ditangani adalah 288 kasus  sedang untuk tahun 2018 jumlah kasus 310 Kasus  hal ini disebabkan karena semakin baik tingkat kesadaran masyarakat tentang PHBS ( Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat ) , dari jumlah total sampel rumah yang di periksa  470 Rumah didapati 273 rumah sudah  ber- PHBS.

 

 

3.1.1.     Penyakit DBD

Jumlah kasus Penyakit Demam Berdarah ( DBD ) adalah 15 kasus, kasus ini meningkat dari tahun sebelumnya ( 2018), penyebab terjadinya peningkatan  kasus Demam Berdarah salah satunya  masyarakat yang tidak peduli lagi pada lingkungannya sehingga banyak ditemukan genangan air disekitar perumahan.

 

GRAFIK 3.1.1

KASUS DEMAM BERDARAH

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

Berdasarkan data diatas dapat kita lihat jumlah kasus Demam Berdarah tertinggi didapati di Desa Lambroe Bilue 3 Kasus, namun untuk tahun 2019 tidak ditemukan kasus kematian yang disebabkan oleh penyakit Demam Berdarah.

 

3.1.2.     Penyakit Kusta dan Filariasis

Penyakit kusta (MB dan PB) dan filariasis merupakan dua jenis penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. Pada tahun 2019tidak ditemukannya kasus baru untuk Filariasis, namun kasus lama masih terus dalam pemantauan petugas kesehatan dengan jumlah 11  Kasus.

 

3.1.3.     Perkembangan Tuberculosis

Penyakit tuberculosis termasuk dalam penyakit prioritas dalam 10 tahun terakhir. dimana  insiden penyakit semakin meningkat setiap tahunnya, peningkatan  kasus  Penyakit Tuberculosis salah satunya dipengaruhi karenaresisten bakteri varian ini terhadap anti mikroba.  Pada Tahun 2019 Jumlah penjaringan suspek TB adalah 124Kasus, Jumlah kasus yang terkonfirmasi bakteriologis yang terdaftar dan diobati adalah 16 Kasus ( Laki- laki  12 Kasus dan perempuan 4 Kasus ),  angka kesembuhan  ( cure rate ) adalah 1 Kasus, sedangkan angka pengobatan  lengkap ( complete rate ) adalah 3 kasus ( laki- laki 3 kasus ) , untuk angka keberhasilan pengobatan ( success rate ) adalah 9 kasus ( 52,9 % ), jumlah pasien yang meninggal akibat Penyakit Tuberculosis adalah 1 kasus

 

 

 

GRAFIK 3.1.3

KASUS TUBERCULOSIS

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

 Berdasarkan grafik diatas dapat kita lihat bahwa jumlah kasus Penyakit Tubercolosis terbanyak di desa Cotpreh yaitu 2 kasus, untuk peresentase angka pengobatan masih sangat rendah yaitu 17, 6 %, pada tahun 2019 juga adanya kasus kematian akibat penyakit Tubercolosis yaitu 1 kasus, dimana pasien tersebut belum mendapatkan pengobatan dari puskesmas Kuta Baro.

 

31.4.   Pneumonia pada Balita

Berbagai penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) sering menyebabkan pneumonia pada balita. Program Nasional Penanggulangan Penyakit Ispa (P2-ISPA) tahun 2011 memperkirakan sebanyak 40% balita menderita Ispa dan dari sebanyak ini 3% diantaranya disertai dengan komplikasi yakni pneumonia. Secara klinis pneunonia terbagi atas 3 grade yaitu pneumonia ringan, sedang, dan berat. Untuk mencapai target program, Puskesmas Kuta Baro mengaktifkan kegiatan surveilans. Surveilans ini bertujuan untuk mendeteksi kasus-kasus pneumonia tahap awal pada balita. Tingkat keaktifan kegiatan surveilans dapat di lihat dari seberapa banyak kasus   yang terdeteksi terutama pada tahap dini. Adapun kasus pneumonia yang terdapat di Kecamatan Kuta Baro adalah sebanyak 10 kasus ( 3,6 % ) dari  suspek yaitu 275 orang, balita yang mengalami pnemoni semua sudah mendapat perawatan dan tertangani dengan baik sesuai standar penata laksanaan kasus pnemonia balita pada ruang Poli Anak  ( Pencatatan MTBS ) .

 

3.1.5.    Epidemi HIV/ AIDS

Pada tahun 2019 di Kecamatan Kuta Baro tidak ditemukannya kasus dan data-data tentang HIV/AIDS hal ini bisa disebabkan sulitnya mendeteksi gejala dini dari penyakit ini disamping itu juga biasanya ODHA ( Orang Dengan Hiv/Aids ) tidak mau memeriksakan penyakitnya ke puskesmas setempat.

 

3.2.   Angka kematian

Tingkat kematian penduduk dapat memperlihatkan gambaran derajat kesehatan masyarakat oleh karena tingkat kematian dipengaruhi oleh kesejahteraan masyarakat. Makin tinggi tingkat kesejahteraan makin rendah tingkat kematian khusus Ibu, Bayi, dan Balita. Selain itu data kematian juga di gunakan untuk menghitung Umur Harapan Hidup(UHH) dan kondisi pelayanan kesehatan,hingga tahun 2019 angka kematian umum belum dapat dilaporkan, namun registrasi kematian yang rutin dilaporkan hanya kematian ibu, bayi, dan balita.

 

3.2.1. Angka kematian Bayi

Pada Tahun 2019 jumlah kasus kematian pada Bayi dan Balita 4 Kasus (3 Bayi dan 1 Balita )

 

GRAFIK 3.2.1

KASUS KEMATIAN PADA BAYI

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

3.2.2. Angka Kematian Ibu

 

Pada Tahun 2019 di wilayah kerja Puskesmas Kuta Baro tidak Ada kematian Ibu.

 

3.3.   Status Gizi Balita

 

Status gizi masyarakat menjadi indikator utama IPM dan berpengaruh besar terhadap ketahanan (survival) suatu masyarakat, status gizi  Bayi dan Balita merupakan salah satu hal penting disamping kelompok umur lainnya.

 

3.3.1. Berat Badan Lahir Rendah

Berat Badan Lahir Rendah(BBLR) adalah berat bayi ketika lahir lebih kecil 2.500gr. Kondisi ini memberi pengaruh buruk terhadap perkembangan balita pada usia selanjutnya.Pada tahun 2019 jumlah BBLR di Kecamatan Kuta Baro adalah sebanyak  3 Bayi  dari 465 bayi  jumlah kelahiran hidup. Seluruh kasus BBLR ini telah diberikan perawatan sesuai prosedur standar penatalaksanaan yang ditentukan, hal ini ini dapat kita lihat pada Grafik dibawah ini;

GRAFIK 3.3.1

KASUS BAYI BERAT LAHIR RENDAH ( BBLR )

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

Berdasarkan data diatas dapat kita lihat kasus BBLR terbanyak di Desa Cucum  yaitu 2 kasus dan 1 kasus terjadi di desa Lapotarom

 

3.3.2.  Tumbuh Kembang Balita

Tumbuh kembang Balita merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan Balita, tumbuh kembang balita perlu dipantau secara rutin dengan pengukuran antropometri/penimbangan berat badan yang di lakukan di posyandu. Dengan memantau tumbuh kembang dapat diketahui tingkat kesejahteraan balita. Pada tahun 2019, tingkat kesejahteraan balita di Kecamatan Kuta Baro meningkat dari 67, 99 % menjadi 71,2 %  atau sebanyak 1,650 balita yang di timbang dari 2.318 jumlah balita yang ada, jumlah balita gizi kurang (bawah garis merah) 227 kasus ( 15,1 % ), Balita pendek ( TB/U )  54 kasus ( 2,9 % ) dan Balita Kurus  ( BB/TB ) 275 kasus ( 14,9 ) pada tahun 2019 petugas Nutrisionis sangat intens melakukan sweeping pada Balita yang tidak datang ke Posyandu, upaya dilakukan adalah melakukan kunjungan rumah bersama Bidan Desa dan Kader Posyandu untuk melakukan Penimbangan pada Balita, karena masih banyak Orang Tua yang malu  untuk membawa anak ke puskesmas dalam kondisi BGM.

GRAFIK 3.3.2

STATUS GIZI BALITA

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 BAB IV

UPAYA KESEHATAN

 

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan perwujudan dari visi dan misi pembangunan di bidang kesehatan. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan milenium (Millenium Development Goals),dalam MDGs upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan pada upaya kesehatan ibu dan anak. Upaya kesehatan ibu dan anak bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak serta meningkatkan kesehatan reproduksi,untuk mencapai tujuan tersebut upaya yang di tempuh meliputi upaya keselamatan ibu melahirkan (Making Pregnancy Safer/ MPS ), selama kehamilan seorang ibu perlu memperoleh serangkaian tindakan standar agar terwujud MPS demikian pula pada saat kelahiran,MPS merupakan program utama dalam Upaya Kesehatan Ibu dan Anak.

 

4.1.   Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

Tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa tinggi derajat kesehatan ibu dan anak. Penyelenggaraan upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdiri dari beberapa kegiatan utama yaitu kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan(K1 dan (K4) untuk standar  pelayanan sesuai standar 10T, Deteksi Risiko Tinggi (Bumil Resti), pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan(Linakes),penanganan komplikasi, kunjungan bayi dan neonatus serta pelayanan KB.

 

4.1.1.    Kunjungan Ibu hamil  dan Deteksi risiko tinggi

Dari laporan kinerja KIA pada tahun 2019 bahwa cakupan kunjungan ibu hamil pada trisemester 1 ( K1 ) berjumlah 595 ( 83,8  ), untuk trimester 4 (K4) terjadi penurunan menjadi  578 bumil ( 81,4 % ) hal ini terjadi karena Ibu hamil melahirkan di tempat lain ( Rumah Orang Tua atau pindah alamat ) di luar wilayah kecamatan Kuta Baro.

 

GRAFIK4.1.1

KUNJUNGAN BUMIL  DAN DETEKSI RESTI

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

4.1.2. Persalinan oleh tenaga kesehatan dan kunjungan nifas

Komplikasi dan kematian  Maternal dan Bayi yang baru lahir sebahagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini bisa terjadi karena masih ada persalinan yang tidak ditangani oleh tenaga kesehatan  atau bidan yang mempunyai kompetensi kebidanan,  pada tahun 2019 persalinan diwilayah Kuta Baro rata- rata ditangani oleh tenaga kesehatan dimana jumlah Ibu Nifas adalah 710 Orang, seluruh ibu melahirkan dan masa nifas yang melahirkan di wilayah kuta baro sudah di kunjungi oleh tenaga kesehatan untuk memberikan perawatan nifas dan Vitamin A ( 100 % ), kecuali ibu yang saat melahirkan tidak dalam wilayah kuta baro, misalnya ibu nifas yang saat akan melahirkan pulang kerumah orang tua di luar wilayah kuta baro.

4.1.3. Kunjungan Neonatus dan Bayi

Setiap bayi baru lahir membutuhkan perawatan spesifik oleh tenaga kesehatan yang sudah memiliki kompetensi dibidang ini. Perawatan bayi baru lahir merupakan satu paket yang dikemas dalam bentuk kunjungan Neonatus(KN). KN ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu KN1 6-48 jam pasca lahir, KN2 dilakukan 3-7 hari kemudian dan KN3 8-28 setelah KN2. Jika neonatus telah mendapatkan 3 kali KN disebut KN lengkap. Beberapa jenis pelayanan KN yaitu; Penimbangan berat badan, imunisasi dasar lengkap, stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang, pemberian vitamin A setiap bulan yaitu pada bulan Februari dan Agustus (untuk bayi 6 bulan ke atas) Konseling perawatan bayi termasuk ASI ekslusif dan pemberian makanan tambahan. Tujuan dari KN adalah untuk memantau ibu nifas dan bayi tetap sehat dan selamat.

Pada tahun 2019 jumlah Bayi lahir  hidup sebanyak 465 bayi, sedangkan yang mendapatkan KN1 sebanyak 108 bayi ( 23,2 % )  dan yang mendapatkan KN Lengkap juga 108 Bayi ( 232 % ).

 

4.1.4. Akseptor Keluarga Berencana dan Distribusi Alat Kontrasepsi

Jumlah peserta program Keluarga Berencana (KB) dalam beberapa dekade ini makin meningkat. Pola distribusi akseptor merata diseluruh desa. Pada tahun 2019 jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) adalah 4669 Orang, yang menggunakan alat kontrasepsi berjumlah 2,980 ( 63,8 % ), untuk jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat kita lihat pada garfik dibawah ini;

 

 

GRAFIK 4.1.4

PERSENTASE JENIS ALAT KONTRASEPSI YANG DIGUNAKAN

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

Jenis alat kontrasepsi yang paling diminati oleh masyarakat adalah Metode Kontrasepsi Non Jangka Panjang (NMKJP) sedangkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) masih kurang diminati. Secara berturut-turut alat kontrasepsi non mkjp yang terbanyak adalah suntikan 1,334 pasangan( 44,8 % ) Pil KB sebanyak 1.095 pasangan ( 36.7%), kondom sebanyak 97 pasangan ( 3,3 % ) sedangkan  Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) terbanyak meliputi IUD berjumlah 302  pasangan atau 10,1 % , MOW sebanyak 67 atau 2,2%  dan implant sebanyak 87 atau 2.9%. Meskipun tingkat pertumbuhan akseptor KB cukup menggembirakan, namun situasi ini sangat kontras dengan tingkat kelahiran kasar Kecamatan Kuta Baro. Tingkat kelahiran kasar tidak mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan rendahnya minat masyarakat terhadap Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), hal ini dapat kita lihat pada penggunaan Alat Kontraksepsi Pasca salin sangatlah sedikit dari 711 Ibu bersalin hanya 186 ( 26.2 % ) yang menggunakan Alat kontrasepsi, seperti grafik dibawah ini;

 

GRAFIK 4.1.4.1

PERSENTASE JENIS ALAT KONTRASEPSI PASCA SALIN

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

4.1.5. Cakupan vitamin A pada Bayi, Balita dan Ibu Nifas

Tujuan utama program penanggulangan  KVA ( Kurang Vitamin A ) yaitu menurunkan prevalensi Xerophtalmia melalui kegiatan penanggulangan  defisiensi Vitamin A setiap 6 bulan sekali ( Bulan Februari dan Agustus ), pendidikan di posyandu dan fortifikasi bahan makanan yang banyak dikonsumsi anak Balita dengan Vitamin A, pemberian satu kapsul Vitamin A pada Ibu setelah melahirkan bertujuan meningkatkan kadar Vitamin A dalam ASI bagi Ibu dalam 1 – 2 minggu, program pemberian Vitamin A  pada Bayi dan Balita di wilayah Kuta Baro pada tahun 2019dari total 277 jumlah bayi  263 orang mendapatkan Vitamin A dan dari 1.882 balita  ( 12 -59 Bulan )  adalah 1.811  ( 96,2 % ) dan Balita umur 6- 59 bulan yang mendapat vitamin A adalah 2.074 ( 96,1 % ) dari total balita ( 6-19 bulan ) 2.159 balita

 Ibu nifas yang ada di wilayah Kuta Baroberjumlah 710 orang  yang mendaptkan Vitamin A adalah 466 Orang. dimana ibu nifas diberikan Vitamin A sebanyak dua  kali yaitu setelah melahirkan dan satu hari kemudian. Cakupan vitaminA bayi, balita, dan ibu nifas Kecamatan Kuta Baro setiap tahun sudah mencapai target nasional maupun target SPM. Hasilnya terlihat, setiap tahun tidak ada anak di Kecamatan ini yang menderita xeropthalmia atau kebutaan akibat kekurangan vitamin A.

 

4.1.6Air susu ibu ekslusif dan pemberian makanan tambahan keluarga miskin ( PMT - GAKIN )

Program kampanye Asi Ekslusif terus  ditingkatkan setiap tahunnya, meskipun kampanye Asi Ekslusif sudah berjalan baik namun cakupan Asi Ekslusif masih belum mencapai target  100%.

Pada tahun 2019 cakupan Asi Ekslusif  di wilayah Kuta Baro mencapai 64 %  ( 292 Bayi ), bayi yang mendapat IMD ( inisisasi Menyusui Dini  ) sebanyak 368 orang ( 81.6 % ) dari total jumlah Bayi 451 orang,

 

 

 

GRAFIK 4.1.6

CAKUPAN ASI EKLUSIF

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

 

 

Sementara itu, anggaran untuk program pemberian makanan tambahan bayi  masyarakat miskin (PMT-GAKIN) secara khusus tidak pernah dianggarkan namun pemerian PMT untuk Anak yang BGM pada Tahun 2019 telah disalurkan sejumlah 10 Paket ( 10 orang ) dimana paket tersebut terdiri dari; Susu Formula, Gula, Minyak Goreng, Kacang Hijau dan Biskuit.

 

4.1.7. Penimbangan Balita dan Cakupan Balita Gizi Buruk

Posyandu merupakan sarana untuk memantau tumbuh kembang Balita. Oleh karena Posyandu termasuk kedalam salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) maka pelayanan kesehatan di posyandu bersifat gratis, meliputi penimbangan berat badan, imunisasi, pemberian PMT dan sebagainya. Meskipun pelayanannya bersifat gratis,namun minat masyarakat ke posyandu nampak kurang. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat diposyandu untuk melakukan penimbangan balita (D/S) belum mencapai target SPM  Kabupaten ( 85 % ), pada tahun 2019 jumlah Balita 2.312 orang, balita yang ditimbang 1.650 orang ( 71,27 % ) sedangkan Balita yang ditimbang dan naik Berat Badannya berjumlah 71,2 %.

 

4.1.8. Imunisasi Bayi

Program imunisasi dasar di Puskesmas Bayi meliputi:    Hb-0, BCG, DPT-HB-Hib1, DPT-HB-Hib 2, DPT-HB-Hib3, Polio 1, Polio 2, Polio 3, Polio 4  dan campak dengan target SPM 95%,  Imunisasi BATITA meliputi; Booster Campak dan DPT-HB-Hib dengan Target  SPM 60 % sedangkan pelaksanaan BIAS ( Bulan Imunisasi Anak Sekolah )  yang dilaksanakan setiap tahunnya di khususkan untuk Anak SD/ MI kelas I, II dan III  dengan target SPM 95%, Imunisasi untuk  WUS dan Ibu Hamil   dengan Target SPM  80 %.

Pada Tahun 2019 jumlah Bayi yang ada di kecamatan Kuta Baro berjumlah 660 bayi, sedangkan Bayi yang mendapat Imunisasi sebagai berikut;  Dpt- Hb- Hib3: 221 ( 33, 5 % ), Polio4 : 261 ( 39,7 % ), Campak/ MR :  163 bayi ( 24,7 % ) dan Bayi yang mendapat Imunisasi Lengkap  (DPT-HB-Hib3, Polio 4 dan Campak ) berjumlah 156 Bayi ( 23,6 % ), untuk data lebih lengkap dapat dilihat pada grafik dibawah ini;

 

 

GRAFIK 4.1.8

CAKUPAN  IMUNISASI BAYI

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

 

 

Berdasarkan grafik diatas dapat di ketahui bahwa capain program Imunisasi pada Bayi di wilayah Kecamatan  Kuta Baro   belum mencapai target, hal ini salahsatunya  disebabkan karena isu vaksin MR haram, sehingga banyak masyarakat menolak/ tidak memberikan  anak- anaknya di imunisasi

 

4.2.   Akses Mutu dan Pelayanan Kesehatan

4.2.1.       Jaminan pemeliharaan kesehatan

Jaminan pemeliharaan kesehatan prabayar Kecamatan Kuta Baro tidak hanya mengandalkan Jamkesmas dan Askes namun sudah diperluas jangkauannya dengan Jaminan Kesehatan Aceh (JRA). JKA diberlakukan sejak Juni 2010, mencakup seluruh penduduk yang tidak tertampung dalam Jamkesmas dan Askes. Jenis pelayanan yang ditawarkan mencakup pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta pelayanan kesehatan Ibu bersalain ( Jampersal) .

Pada tahun 2015 pemerintah Indonesia telah melebur semua Jaminan kesehatan yang ada seperti Jamkesmas- Jampersal, ASKES dan Jamsostek menjadi satu badan  yang bernama Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ). Untuk Provinsi Aceh sebelumnya telah membentuk Asuransi Kesehatan ( JKA )  yang kemudian direvisi dan di perbahru serta di ganti nama menjadi Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh ( JKRA ) , dimana JKN ini di kombinasikan dengan JKRA sehingga masyarakat Aceh ( mempunyai KK atau KTP Aceh )  yang tidak ditanggung di JKN bisa dimasukan ke JKRA.

Pada Tahun 2019  jumlah keseluruhan peserta JKN di Kuta Baro adalah 22.718 peserta ( 79,9 % ), yang Pekerja  Penerima  Upah ( PPU ) adalah 2.132 ( 7,5 % ).

 

4.2.2.       Pelayanan Kesehatan Jiwa

Pelayanan kesehatan jiwa ( Keswa ) yang ada di Kuta Baro merupakan salah satu program Inovasi/ Unggulan yang ada, karena sejak Tahun 2005 Kuta Baro merupakan puskesmas percontohan untuk program keswa dimana tenaga kesehatan jiwa      ( Community Mental Health Nursing/ CMHN ) telah di latih  dan tahun 2013 dibangun gedung Pustu Plus Keswa di lamrabo di wilayah kuta baro, program keswa yang dijalankan Kuta Baro meliputi; Home Visit/ Kunjungan Rumah dengan menerapkan Asuhan Keperawatan pada Individu dan keluarga, Penyuluhan Kesehatan Jiwa pada Masyarakat dan Kelompok Psikososial ( Lansia, Bumil ), Pendidikan Kesehatn Jiwa Pada Anak Sekolah, Konseling pada individu, Terapi Aktifitas Kelompok ( TAK ), Rehabilitasi Pada Pasien Jiwa Mandiri,  Day Carem ( penintipan pasien  oleh keluarga dikarenakan keluarga bekerja dari jam 08.30- 12.30 setiap hari kerja ), pembinaan Desa Siaga Sehat Jiwa,

Pada tahun 2019 jumlah kasus yang ditemui  sebanyak 238 kasus., dimana 194 kasus ( 81,5  % ) sudah  sudah ditangani oleh CMHN sedangkan sekitar 20% dari kasus ini pernah dilakukan rujukan ke Rumah Sakit Jiwa RSJ Aceh. Adapun tingkat penemuan kasus gangguan jiwa Kecamatan Kuta Baro masih berada dibawah tingkat nasional meskipun masih banyak kasus gangguan jiwa yang belum terdeteksi.

 

4.3.             Perilaku Hidup Masyarakat

Perilaku Hidup Sehat Dan Bersih ( PHBS ) adalah suatu perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan- kegiatan kesehatan di masyarakat, dalam PHBS juga dilakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan        ( advocacy ), bina suasana ( social Support ) dan pemberdayaan Masyarakat. Pada Tahun 2018 jumlah Kasus Demam Berdarah ( DBD ) dan Malaria sudah bisa ditekan hingga menjadi 0 Kasus namun pada tahun 2019 Jumlah kasus Demam Berdarah meningkat tajam menjadi 15 Kasus, hal ini disebabkan masyarakat sudah mulai mengabaikan kebersihan lingkungan.

Program PHBS tingkat Rumah Tangga belum teraplikasi sepenuhnya, Pada Tahun 2019 cakupan pencapaian Rumah Tangga ber- PHBS masih jauh di bawah target, Rumah Tangga Sehat adalah rumah tangga yang melakukan 10 Indikator  PHBS di Rumah Tangga  yaitu: Persalinan ditolong oleh  tenaga kesehatan, Memberi Bayi ASI Esklusif, Menimbang Bayi dan Balita, Menggunakan Air Bersih, Mencuci tanggan dengan air bersih sabun, Menggunakan  Jamban sehat, Memberantas jentik di rumah, Makan buah dan sayur setiap hari,  Melakukan aktivitas fisik setiap hari, Tidak merokok di dalam rumah,

Hal ini juga sesuai dengan program baru pemerintah tahun 2018 yaitu Program PIS-PK atau Program Indondesia Sehat dengan Kunjungan Keluarga, dimana setiap keluarga akan dilakukan kunjungan keluarga untuk melihat sejauh mana tingkat kesehatan keluarga dengan mengisi formulir kesehatan yang mencakup 12 Indikator

 

4.4.   Keadaan Lingkungan

          4.4.1. Sanitasi Dasar

Sarana sanitasi dasar  yang sehat merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dari hasil pendataan tahun 2019 diketahui jumlah penduduk yang memiliki sumber Air Minum  4,454, jumlah sarana air minum di IKL  705 ( 15,8 % ), yang memiliki  jamban sehat 1.009 ( 15,3 % ), jumlah desa yang sudah Stop BABS ( SBS ) 13 desa ( 27,7 % ) yaitu desa: Lambroe Deyah, Cot Masam, Cot Mancang, Bueng Bakjok. Cot Beut, Lamglumpang, Aron, Lambunot Tanoh dan leupumg ule alue

 

4.4.2. Pembinaan Institusi

                    Program pembinaan institusi semakin berkembang setiap tahun, seluruh Sekolah Dasar/ Madrasyah Ibtidyah telah dibentuk kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah, kegiatan yang dilakukan antara lain; pemeriksaan Berkala, Penjaringan Kesehatan. Pada tahun 2019 jumlah sekolah Dasar/ Madrasyah Ibtidyah berjumlah 14 sekolah, SLTP/ MTS berjumlah   6 sekolah, jumlah SMA/ MA 6 sekolah.

 

 

 

GRAFIK 4.4.2

JUMLAH SEKOLAH

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

BAB V

SUMBER DAYA KESEHATAN

 

5.1.   Sarana Kesehatan

 

Tahun 2019 penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Kecamatan Kuta Baro masih didominasi oleh milik pemerintah sedangkan sektor swasta tidak mengalami peningkatan. Jumlah sarana kesehatan yang ada adalah  1 unit Puskesmas induk dan 3 unit Puskesmas pembantu, 26  unit Poskesdes, 51 unit posyandu dari 47 Desa,dilain sisi jumlah pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh swasta meliputi: 1 Unit Klinik Pratama,  1 unit Praktek Dokter Umum Perorangan, didukung pula oleh adanya Apotik 2 unit dan toko obat sebanyak 3 unit.

Puskesmas Kuta Baro setiap tahun berusaha untuk memperbaiki mutu pelayanan kesehatan agar pelayanan tersebut bersifat  komprehensif, berkualitas dan terjangkau bukan hanya pada puskesmas rawat jalan tapi didukung juga dengan puskesmas rawatan yang memberi pelayanan kesehatan selama 24 jam setiap harinya yang untuk melayani setiap penduduk yang membutuhkannya, jumlah pasien yang berobat di rawat inap puskesmas Kuta Baro berjumlah 717 pasien.

 

5.2.   Jumlah UKBM dan Posyandu

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat ( UKBMM ). Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat  diantaranya adalah Polindes, Posyandu dan Pos Kesehatan Pesantren  ( Poskestren ) .

Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat sulit dicapai jika dilakukan oleh pemerintah saja, untuk itu perlu dukungan partisipasi aktif masyarakat, partisipasi masyarakat dibidang kesehatan dapat diukur dari beberapa indikator antara lain adalah strata posyandu,strata desa (gampong) siaga dan PHBS. Target partisipasi masyarakat pada tahun 2019 masih belum ada peningkatan dari tahun sebelumnya dimana Madya 16 Posyandu ( 31 % ), Purnama 34 posyandu     ( 66,67 % ), Mandiri  1 posyandu ( 1,96 % )

 

     GRAFIK 5.2.1

TINGKATAN STRATA POSYANDU

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

 

Kondisi pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas Kuta Baro juga didukung oleh  18 desa siaga dan  25 Pos Kesehatan Desa yang dapat dilihat pada grafik sebagai berikut;

 

 

 

GRAFIK 5.2.2

TINGKATAN DESA SIAGA

DI KECAMATAN KUTA BARO TAHUN 2019

 

5.3. Ketersediaan obat

Obat-obatan merupakan komponen utama pelayanan kesehatan. Tingkat kebutuhan obat-obatan setiap tahun makin meningkat seiring meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas Kuta Baro dan peningkatan kapasitas Puskesmas. Jenis obat yang dikelola oleh Puskesmas  mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yaitu golongan obat generic berlogo sebesar 100%.

Obat-obatan yang dikelola Apotik adalah yang berasal  dari beberapa sumber yakni APBN, APBD, JKN dan kerjasama program. Pada tahun 2019 tersedia 144  item obat.

Dari laporan obat (LPLPO) dapat diketahui jenis obat terbanyak adalah paracetamol tablet 500 mg. Pengadaan obat mengikuti trend konsumsi sesuai perkembangan pola penyakit utama rawat jalan. Pengeluaran obat terbanyak pada tahun2019 tidak jauh dari tahun sebelumnya dimana paracetamol pada rangking pertama sebanyak 118.900 peringkat kedua adalah Asam Askorbat ( Vitamin C ) 77.500,peringkat ke tiga Antasida  Doen sebanyak 58.300, hal ini sesuai dengan penyakit utama terbanyak adalah commond cold.

 

5.4.   Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan merupakan unsur utama yang mendukung subsistem kesehatan lainnya. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. Subsistem sumber daya manusia kesehatan bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan yang bermutu secara mencukupi, terdistribusi secara adil serta termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Menurut Peraturan Pemerintah No.32 tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dibidang kesehatan serta mempunyai pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 Tentang Puskesmas, setiap puskesmas telah ditetapkan standar kebutuhan Tenaga Kesehatan sesuai dengan Katagori Puskesmasnya

Guna memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang profesional, jumlah dan kualifiaksi tenaga kesehatan terus menerus ditingkatkan. Pada tahun 2019 proporsi tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas harus ideal antara jumlah penduduk dengan jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas. Adapun jumlah tenaga kesehatan yang ada di puskesmas dapat dilihat pada tabel berikut;

 

TABEL 5.4

JUMLAH  TENAGA KESEHATAN

PUSKESMAS KUTA BARO TAHUN 2019

 

 

No

 

Jenis Tenaga Kes

Status Kepepegawaian

 

Ket

PNS

Honorer/ Bakti

1

Dokter Umum

2

1

 

2

Dokter Gigi

1

 

 

3

SKM

10

1

 

4

Bidan

78

10

 

5

Perawat

27

8

 

6

Perawat Gigi

4

2

 

7

Analis

 

3

 

8

Gizi

4

1

 

9

Farmasi

1

2

 

10

Sanitarian

5

 

 

11

Fisioterapy

2

 

 

12

Pekarya

2

 

 

13

Tenaga Lain ( SMA )

2

1

 

JUMLAH

124

18

 

 

Berdasarkan  tabel diatas terlihat tenaga kesehatan di dominasi oleh Bidan berjumlah 98 orang, sementara untuk tenaga Analis belum ada tenaga pegawai yang tetap (  PNS ).

 

 

 

5.5    Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan menjadi komponen kunci keberhasilan pelayanan kesehatan. Seiring dengan paradigma pelayanan kesehatan menuntut pembiayaan kesehatan yang semakin mahal pula. Oleh karena itu sumber pembiayaan kesehatan tidak mungkin di tanggulangi oleh sektor pemerintah saja akan tetapi oleh sektor swasta maupun perseorangan. Pada tahun 2018, alokasi Dana untuk puskesmas dapat dilihat pada table di bawah ini;

 

Tabel  5.5

Proporsi Anggaran Kesehatan Kecamatan Kuta Baro Tahun 2019

 

 

 

NO

 

SUMBER BIAYA

 

ALOKASI ANGGARAN ( Rp )

 

1.

 

BOK

 

 

751.225.000,-

 

2.

JKN

 

1.863.521.814,-

 

 

 

Total Anggaran

 

 

2.614.746.814,-

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

 

 

Pelaksanaan pelayanan kesehatan pada tahun 2019 sudah terlaksana dengan baik dan merata, namun demikian beberapa program kegiatan belum mampu diselesaikan dengan baik yang sesuai standar minimal yang telah ditetapkan, antara lain;

  1. Trend angka kematian bayi dan ibu melahirkan terlihat sudah adanya perubahan ke arah yang lebih baik lagi hal ini disebabkan oleh semakin baiknya kegiatan pelayanan kesehatan KIA dengan pemerataan tenaga bidan di desa dan sistem pelaporan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang semakin teratur dalam pencatatan semua kegiatan yang dilakukan.
  2. Kegiatan pelayanan kesehatan ditingkat posyandu belum efektif yang terlihat dari masih rendahnya cakupan D/S sehingga penjaringan kasus balita dengan gizi kurang dan gizi buruk kurang maksimal.
  3. Penyakit menular yang berpotensi wabah seperti Diare, DBD dan Malaria masih muncul namun masih bisa diatasi dengan kerja sama lintas sektor dan lintas program.
  4. Cakupan sanitasi dasar (rumah, jamban, saluran pembuangan air limbah, sumber air bersih, pengawasan tempat-tempat umum,tempat pengolahan makanan) yang memenuhi syarat kesehatan masih dibawah target standar pelayanan minimal kesehatan.
  5. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) belum sesuai harapan dimana kegiatan penimbangan (D/S) masih belum mencapai target yang memuaskan begitu pula dengan posyandu dengan strata madya dan purnama serta desa siaga belum mencapai target yang sesuai dengan harapan.
  6. Pelayanan obat sudah dilakukan lewat pelayanan satu pintu namun pengawasan penggunaan obat tradisional belum terlaksana secara efektif.

Editor : PUSKESMAS KUTA BARO

Related Posts