Profil Puskesmas Blang Bintang

Profil Puskesmas Blang Bintang

VISI_DAN_MISI_PUSKESMAS_BLANG_BINTANG

BAB I

PENDAHULUAN

                                                                                    

  • Latar Belakang

      Tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019 berdasarkan

Rencana strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 yang termaktub dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 yaitu: 1) meningkatnya status kesehatan masyarakat dan;  2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Beberapa indikator pencapaian tujuan adalah berupa:

  • Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup    (SP 2010), 346 menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012);
  • Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup;
  • Menurunnya persentase BBLR dari 10,2% menjadi 8%;
  • Meningkatnya upaya peningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, serta pembiayaan kegiatan promotif dan preventif;
  • Meningkatnya upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Arah kebijakan Kementerian Kesehatan mengacu pada tiga hal penting

yakni:

1) Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care);

2) Penerapan Pendekatan Keberlanjutan Pelayanan (Continue Of Care);

3) Intervensi Berbasis Risiko Kesehatan.

Puskesmas Blang Bintang selaku instansi Tehnis dibidang Kesehatan di tingkat Kecamatan pada tahun 2018 telah melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan sesuai dengan Jumlah Anggaran yang tersedia. Berbagai program diselesaikan dengan realisasi maksimal meskipun pelaksanaan pembangunan kesehatan 2018 menghadapi banyak kendala akibat minimnya dana pembangunan yang dianggarkan Pemerintah Daerah, kegiatan pelayanan kesehatan dapat terlaksana dengan baik oleh karena pemerintah pusat dan pemerintah propinsi turut menunjang dengan berbagai program prabayar seperti Bantuan Operasonal Kesehatan (BOK) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dengan adanya Jaminan kesehatan prabayar ini seluruh pelayanan kesehatan bagi masyarakat diberikan cuma-cuma baik pelayanan primer, sekunder maupun tersier.

Untuk mengetahui seberapa jauh program pembangunan kesehatan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pemerintah telah menetapkan standar/ parameter acuan penilaian seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Human Development Index/Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan yang lebih spesifik di bidang kesehatan adalah Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

IPMK merupakan indikator komposit yang memberi gambaran  keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Indikator utama atau gold standar IPMK adalah Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) yang disusun berdasarkan 24 indikator komposit yang erat hubungannya dengan UHH. Ke- 24 komposit atau variabel utama tersebut dibedakan menjadi tiga variabel yaitu variabel mutlak (harus ada), variabel penting dan variabel perlu. Variabel mutlak sebanyak 11 variabel sedangkan variabel penting sebanyak 5 variabel dan variabel perlu ada 8 variabel. Dalam IPKM variabel mutlak terdiri dari prevalensi Balita gizi buruk dan kurang, Balita sangat pendek dan pendek serta sangat kurus dan kurus. Selanjutnya adalah Tingkat Akses Masyarakat Terhadap Sanitasi dan Air Bersih, Cakupan Penimbangan Balita, Pemeriksaan Neonatal I dan cakupan Imunisasi Lengkap bayi, Rasio dokter/Puskesmas, Rasio Bidan Per Desa dan Cakupan Persalinan Oleh Nakes. Pada variabel penting yang termasuk kedalamnya adalah proporsi Balita Gemuk, Prevalensi Diare, Hipertensi dan Pneumonia ditambah dengan proporsi perilaku cuci tangan pada tingkat rumah tangga. Terakhir, pada variabel perlu terdiri dari Prevalensi Gangguan Mental, Perilaku Merokok setiap Hari, Penyakit Gigi dan Mulut, Prevalensi Astma, Disabilitas, Cidera, Penyakit Sendi dan ISPA.

Dalam Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.12 Tahun 2007 dan Keputusan Menteri Kesehatan Tahun 2008 tentang kewajiban menyediakan buku dokumen profil bagi setiap pelayanan publik, ditekankan bahwa seluruh instansi Pelayanan Publik wajib membuat laporan dalam bentuk profil pada akhir tahun untuk menyajikan pencapaian kinerja bidang masing-masing program pelayanan masyarakat.

Profil kesehatan adalah salah satu bentuk laporan tahunan (annual report) yang menyajikan data-data pencapaian indikator kinerja kesehatan. Data-data dalam profil kesehatan menjadi parameter atas penyelenggaraan urusan wajib pemerintah daerah di bidang kesehatan. Sejak tahun 2008, profil kesehatan tidak hanya menjadi laporan wajib Puskesmas Blang Bintang semata akan tetapi setiap Puskesmas yang berada di tiap wilayah wajib membuat profil. Ketersediaan buku profil menjadi salah satu unsur indikator penilaian kinerja setiap unit layanan kesehatan.

Profil  Puskesmas Blang Bintang adalah gambaran situasi kesehatan di  wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang dimana memuat berbagai data tentang kesehatan, yang meliputi data derajat kesehatan, upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan. Profil kesehatan juga menyajikan data pendukung lain yang berhubungan dengan kesehatan seperti data kependudukan, data sosial ekonomi, data lingkungan dan data lainnya. Data ditampilkan dalam bentuk Narasi, Tabel dan Grafik.

Profil Puskesmas Blang Bintang Tahun 2018 diharapkan dapat memberikan data yang akurat. Selain itu profil ini juga dapat digunakan sebagai penyedia data dan informasi dalam rangka evaluasi perencanaan, pencapaian program kegiatan di Puskesmas Blang Bintang Tahun 2018 .

 

  • Maksud dan Tujuan

 

Tujuan umum penyusunan profil ini adalah sebagai laporan evaluasi terhadap pencapaian indikator kinerja Puskesmas Blang Bintang Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar untuk tahun angggaran 2018.

 Adapun tujuan khusus adalah:

1.2.1. Sebagai urusan wajib penyelenggara pelayanan publik

1.2.2. Menyediakan informasi berbasis bukti (evidence base)

1.2.3. Menyajikan pencapaian kinerja tahun anggaran 2018

1.2.4. Menyajikan pencapaian target SPM tahun 2018

1.2.4. Menyajikan hasil evaluasi kinerja pembangunan Kesehatan Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar 2018

 

1.3.     Ruang Lingkup

Data-data yang disajikan dalam profil ini mencakup beberapa hal, antara lain adalah:

1.3.1.  Perkembangan wilayah, demografis dan sosial ekonomi.

1.3.2.  Perkembangan Derajat kesehatan masyarakat, meliputi angka

           kematian, angka kesakitan dan status gizi.

1.3.3. Cakupan Upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan kesehatan, PHBS dan kondisi lingkungan.

1.3.4. Perkembangan Sumber daya kesehatan mencakup distribusi SDM, sarana dan prasarana.

1.3.5.  Alokasi Pembiayaan Kesehatan.

 

BAB II

GAMBARAN UMUM

 

2.1.      Gambaran  Geografis

Blang Bintang merupakan kecamatan pemekaran dari kecamatan Ingin Jaya, Montasik, dan Kuta Baro. Pemekaran kecamatan Blang Bintang dituangkan dalan Qanun Kabupaten Aceh Besar Nomor : 3 Tahun 2006. Di dalam Qanun ini disebutkan bahwa Blang Bintang berasal dari sebagian wilayah kecamatan Montasik, Kecamatan Kuta Baro, Kecamatan Ingin Jaya yang terdiri dari 26 desa. Pada pasal 5 ayat 3 disebutkan bahwa Batas wilayah Kecamatan Blang Bintang secara pasti di Lapangan ditetapkan oleh Bupati. Berdasarkan pasal tersebut maka GIS Center Kabupaten Aceh Besar bermaksud untuk melakukan identifikasi batas wilayah kecamatan Blang Bintang.

Kecamatan Blang Bintang mempunyai luas wilayah 70,51 Km2, yang letak astronisnya pada posisi garis lintang -3.7861 dan garis bujur 119.652 dan ketinggian < 500 meter diatas permukaan laut. Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang  sebagai berikut :

     -  Sebelah Barat                    : Wilayah Kerja Puskesmas Ingin Jaya

     -  Sebelah Timur                   : Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Mesjid

                                                   Raya

-  Sebelah Utara                   : Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Baro

      - Sebelah Selatan                : Wilayah Kerja Puskesmas Montasik

      Secara administratif Kecamatan Blang Bintang terbagi menjadi 26 Desa dalam 3 Kemukiman yaitu Kemukiman Cot Saluran 26 km2 yang terdiri dari 5 desa, Kemukiman Meulayo 8.61 km2 terdiri dari 7 desa dan Kemukiman Sungai Makmur 35.90 km2 terdiri dari 14 desa.

       Puskesmas Blang Bintang terdapat 4 Puskesmas Pembantu ( Pustu ) yaitu Pustu Meulayo, Pustu Cot Karieng, Pustu Cot Nambak dan Pustu Kayee Kunyet dan tiap Pustu mempunyai wilayah kerja masing masing.

Puskesmas Blang Bintang terletak di Jalan Raya Banda Aceh – Bandara SIM Km.15 Desa Kampung Blang Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar. Jarak ke Ibukota Kecamatan ± 1 Km sedangkan jarak ke Ibukota Kabupaten ± 47 km dan jarak ke ibukota provinsi 16 Km.

            Dilihat dari sisi perangkat wilayah administrasi terendah, yaitu Dusun/ Lorong, terdapat 77 Dusun di Kecamatan Blang Bintang.

            Transportasi antar wilayah dihubungkan dengan jalan darat. Jalan utama desa sebagian besar sudah beraspal dan mudah dijangkau dengan sarana transportasi serta akses jalan dalam satu desa sudah  banyak yang beraspal.

            Sebagian besar wilayahnya dapat dilalui dengan kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua atau ojek. Akan tetapi akses jalan menuju ke Puskesmas Blang Bintang lebih mudah di capai oleh warga di Kemukiman Cot Saluran dan Kemukiman Meulayo walaupun ada pustu di masing-masing kemukiman, sedangkan warga di Kemukiman Sungai Makmur lebih mudah mengakses ke Pustu Kayee Kunyet dan Pustu Cot Nambak.

Demikian juga dalam melaksanakan pelayanan luar gedung, lebih mudah untuk mencapai wilayah kemukiman Cot Saluran dan kemukiman Meulayo karena lebih mudah aksesnya dibandingkan dengan 2 kemukiman lainnya.

 

2.2. Perkembangan Kependudukan

           Adapun jumlah penduduk di Kecamatan Blang Bintang Pada tahun 2018 adalah 12.575 jiwa. Jumlah laki-laki sebanyak 6.448 dan perempuan 6.127 jiwa dengan perbandingan jenis kelamin (sex ratio) 105 sedangkan rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4,97 atau dibawah kondisi ideal kepadatan rumah tangga ( belum mencapai kondisi ideal rumah tangga) dan kepadatan penduduk 178 jiwa per km2.

Angka Kelahiran Kasar/ Crude Birth Rate (CBR) selama 2 tahun terakhir  menunjukkan tidak terjadinya peningkatan. Pada Tahun 2017 CBR sebesar 219 jiwa, dan begitu juga pada Tahun 2018 CBR sebesar 219 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa Program  Pengendalian Penduduk belum berjalan efektif di Kecamatan  ini. Tingginya angka kelahiran kasar (Crud Birth Rate) tentunya meningkatkan angka pertumbuhan penduduk (Population Growth Rate) dan memperbesar  beban tanggungan penduduk (dependency ratio). Dinamika penduduk Kecamatan Blang Bintang bila disusun menurut hirarki golongan umur termuda (bayi) hingga golongan tua (lansia) akan nampak  bahwa komposisi penduduk terbanyak berada pada usia muda. Dengan demikian struktur penduduk Kecamatan ini merupakan struktur penduduk muda atau tidak produktif (anak-anak dan remaja) lebih banyak dibanding penduduk produktif. Tingkat dependency ratio tahun 2018  sebesar 49 yang berarti bahwa setiap 100 jiwa penduduk usia produktif harus menanggung 49 jiwa penduduk tidak produktif.

2.3. Sosial Budaya dan Lingkungan

Budaya dan kebiasaan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang tidak jauh beda dengan budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia pada umumnya, yakni giat gotong royong dan kekeluargaan masih sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat.

Perilaku masyarakat sangat dipengaruhi oleh adat istiadat setempat seperti persatuan yang diwujudkan dalam sikap kegotong royongan yang kokoh. Ini terlihat pada acara-acara seperti selamatan, pernikahan dan masih banyak lagi acara-acara lain yang sangat mencerminkan budaya atau adat istiadat setempat.

 

 

 

 

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

 

3.1. Angka Kesakitan

Pada Tahun 2018, kunjungan yang dilaporkan sebanyak 9853 kunjungan atau 78,4 % dari jumlah penduduk. Berdasarkan laporan bulanan LB1 dapat dilihat 10 (sepuluh) penyakit utama rawat jalan di Puskesmas Blang Bintang untuk jenis kasus baru dan kasus lama. Pola penyakit utama rawat jalan adalah  ISPA 1357 kasus, Peny.pada sistem jaringan otot dan jaringan pengikat (Reumatik) 987 kasus, Tukak Lambung (Dyspepsia) 718 kasus Comoncol 618 kasus, Hypertensi 521 kasus, Peny.kulit Alergi 447 kasus, DM Type II 417 kasus, dan Asma Bronchiale 194 kasus, Kelainan Refraksi 152 Kasus, Cefalgia 126 Kasus.

Data-data surveilans epidemiologi penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang memperlihatkan jumlah penderita diare yang ditangani mengalami penurunan, pada Tahun 2017 sebanyak 156 kasus  menjadi 138 kasus pada Tahun 2018, ini disebabkan karena kondisi sanitasi dasar yang mulai menampakkan perubahan, begitupun Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang sudah mulai dipromosikan dan diterapkan kepada masyarakat.

 

3.1.1. Penyakit DBD

Pada Tahun 2017 ditemukan 10 kasus penyakit DBD dan pada Tahun 2018 tidak ditemukan adanya peningkatan kasus penyakit DBD yaitu sebesar 10 kasus. Hal ini membuktikan bahwa upaya pemberantasan DBD selama ini belum mampu menurunkan laju peningkatan kasus.

 

 

3.1.2. Penyakit Kusta dan Filariasis

Penyakit kusta (MB dan PB) dan filariasis merupakan dua jenis penyakit menular yang menjadi prioritas di Indonesia. Pemerintah telah menetapkan target menghapus (eliminasi) Kusta pada tahun 2000 dan eliminasi filariasis pada 2015. Program kampanye eliminasi kusta pada tahun 2005 berhasil menurunkan insiden rate kusta menjadi <1% per 1000 penduduk. Pencapaian ini dapat dipertahankan selama 5 tahun terakhir sehingga pada tahun 2012 insiden rate dapat turun hingga 0,8 sehingga target eliminasi dapat tercapai. Selain penyakit kusta, upaya pemerintah untuk mengeliminasi penyakit filariasis terus menerus ditingkatkan. Meskipun demikian, penyakit yang satu ini sudah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat oleh karena dalam satu dasawarsa terakhir tidak ada temuan kasus baru (limfedenitis filariasis). Untuk mempercepat upaya pemberantasan filariasis, sejak tahun 2008 telah digerakkan program eliminasi filariasis dengan metode minum obat masal selama 5 tahun berturut-turut dalam rangka mewujudkan target Aceh Besar Bebas Filariasis Tahun 2015

3.1.3. Perkembangan Tuberkulosis

Penyakit tuberculosis termasuk dalam penyakit prioritas dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena insiden penyakit makin meningkat. Meningkatnya insiden TB dipengaruhi oleh pandemic HIV/AIDS dan resistensi bakteri varian ini terhadap antimikroba. Selama 3 tahun terakhir kasus TB di Kecamatan Blang Bintang meningkat, namun jumlah kasus yang dilaporkan masih kecil jika dibanding dengan target program. Pada tahun 2017, dari jumlah penjaringan suspek TB ditemukan 7 kasus baru, dan Tahun 2018 dari  hasil penjaringan suspek TB ditemukan176 kasus dan ditemukan 7 kasus TB baru .

3.1.4. Pneumonia Pada Balita

Berbagai Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sering menyebabkan pneumonia pada Balita. Program Nasional Penanggulangan Penyakit ISPA (P2-ISPA) tahun 2013 memperkirakan sebanyak 40% Balita menderita ISPA dan dari sebanyak ini 3% diantaranya disertai dengan komplikasi yakni Pneumonia. Secara klinis Pneumonia dibagi atas 3 grade yakni Pneumonia Ringan, Sedang dan Berat. Program P2-ISPA Kabupaten Aceh Besar menetapkan target penemuan kasus Penumonia pada Balita sebesar 3.261 kasus dari 32.639 Balita.

Untuk mencapai target program, setiap Puskesmas diaktifkan kegiatan surveilans. Surveilans ini bertujuan untuk mendeteksi kasus-kasus Pneumonia tahap awal pada Balita. Tingkat keaktifan kegiatan surveilans dapat dilihat dari seberapa banyak kasus yang terdeteksi terutama pada tahap dini. Sedangkan di wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang pada Tahun 2017 ditemukan 31 kasus Pneumonia pada Balita dari jumlah perkiraan penderita sebesar 105 kasus. Dan pada Tahun 2018 ditemukan 10 kasus Pneumonia pada Balita dari perkiraan penderita sebesar 107 kasus .

 

3.1.5. Epidemi HIV/AIDS

Pandemic global HIV/AIDS yang telah memasuki fase ke 4 turut melanda Propinsi Aceh. Dalam satu dasawarsa terakhir, kasus penyakit berkembang secara eksponensial. Hal ini tidak terlepas dari penyakit HIV/AIDS yang membentuk pola fenomena gunung es. Pada tahun 2001 jumlah kasus yang terdeksi hanya 2 kasus namun sepuluh tahun kemudian menjadi 99 kasus.

Kasus HIV/AIDS yang dilaporkan di Kabupaten Aceh Besar pada 2011 sebanyak 5 kasus namun 2 kasus diantaranya telah meningggal di tahun yang sama sehingga jumlah kasus aktif menjadi 3 kasus. Data-data tentang HIV/AIDS masih sulit didapat oleh karena penanganan kasus termasuk pengobatan dengan Anti Retro Viral (ARV) HIV/AIDS masih menjadi urusan KPA Propinsi. Pengelola program Kabupaten Aceh Besar hanya mendapat feed back laporan saja sehingga menyulitkan upaya pemantauan. Selain itu, Program VCT juga belum berkembang oleh karena ketiadaan dana dan sarana. Di Kecamatan Blang Bintang tidak ditemukan adanya kasus HIV/AIDS.

 

3.2. Angka Kematian

Tingkat kematian penduduk dapat memperlihatkan gambaran derajat kesehatan masyarakat oleh karena tingkat kematian dipengaruhi oleh kesejahteraan masyarakat. Makin tinggi tingkat kesejahteraan makin rendah tingkat kematian khusus (ibu hamil, ibu bersalin, bayi dan balita). Selain itu data kematian juga digunakan untuk menghitung Umur Harapan Hidup (UHH) dan kondisi pelayanan kesehatan. Hingga tahun 2018, angka kematian umum tidak dapat disajikan oleh karena Puskesmas kurang memperhatikan kebutuhan data ini. Registrasi kematian belum tersedia, namun registrasi kematian yang rutin dilaporkan hanya kematian ibu, bayi dan balita.

 

3.2.1. Angka Kematian Bayi

Pada Tahun 2017 Angka Kematian Bayi (AKB) di Kecamatan Blang Bintang tidak ditemukan, pada Tahun 2018 ditemukan 3 kasus kematian bayi per 1000 kelahiran hidup. Namun demikian, diperkirakan jumlah kasus yang dilaporkan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di masyarakat oleh karena laporan kematian bayi dari Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Swasta belum terdata sepenuhnya.

Perkembangan tingkat AKB Kecamatan Blang Bintang dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

 

 

 

Grafik 3.1

Angka  Kematian Bayi

Di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang tahun 2017-2018

 

 

3.2.2. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah kematian ibu akibat dari proses kehamilan dan persalinan. Dengan target AKI sebesar 126/100.000 kelahiran hidup. Di Kecamatan Blang Bintang pada Tahun 2017 tidak ditemukan kasus kematian ibu bersalin, dan pada Tahun 2018 juga tidak ditemukan  kasus kematian ibu hamil/bersalin/nifas seperti  perdarahan kondisi ini diyakini tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di masyarakat oleh karena kemungkinan masih banyak kasus ibu meninggal dari rumah sakit atau klinik swasta yang tidak dilaporkan.

 Perkembangan tingkat AKI Kecamatan Blang Bintang dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

 

 

Grafik 3.2

Jumlah Kasus Kematian Ibu

Di Kecamatan Blang BintangTahun 2017-2018

 

 

3.3.     Status Gizi Balita

Status gizi masyarakat menjadi indikator utama IPM dan berpengaruh besar terhadap ketahanan (survival) suatu masyarakat. Menururt laporan UNDP dan BPS Aceh (2011), nilai indeks IPM Kabupaten Aceh Besar 73,32 atau ranking 144 nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa ada permasalahan serius dengan status gizi masyarakat di kawasan ini. Kekurangan zat gizi makro dan zat gizi mikro berdampak pada tingginya gangguan tumbuh kembang balita. Jumlah kasus anak usia sekolah yang stunting mencapai sekitar 34% sedangkan Balita kurang gizi mendekati 30%. Selain itu besaran pengukuran masalah gizi di masyarakat dapat juga dilihat dari tingkat pertumbuhan Balita dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

 

 

 

3.3.1. Berat Bayi Lahir Rendah

Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) adalah berat bayi ketika lahir <2.500 gram. Kondisi ini memberi pengaruh buruk terhadap perkembangan balita pada usia selanjutnya. Pada Tahun 2017, ditemukan 6 kasus BBLR di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar dan pada Tahun 2018 ditemukan 9 kasus BBLR. Kondisi ini diyakini tidak menggambarkan kondisi sebenarnya oleh karena kemungkinan masih banyak kasus BBLR dimasyarakat yang tidak dilaporkan oleh karena data laporan dari rumah sakit maupun klinik swasta belum tertangani dengan baik. Sementara itu cakupan deteksi Bumil risti masih di bawah target sedangkan angka partisipasi masyarakat di Posyandu 75,1%.

Perkembangan tingkat  BBLR Kecamatan Blang Bintang dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

 

 

 Grafik 3.3

Jumlah Kasus BBLR

Di Kecamatan Blang BintangTahun 2017-2018

 

 

 

 

 

3.3.2. Tumbuh Kembang Balita

Tumbuh kembang Balita merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan Balita. Tumbuh Kembang Balita perlu dipantau secara rutin dengan pengukuran antropometri / penimbangan berat badan yang dilakukan di Posyandu. Dengan memantau tumbuh kembang dapat diketahui tingkat kesejahteraan balita. Hingga tahun 2011, tingkat kesejahteraan Balita Kabupaten Aceh Besar belum dapat diidentifikasi dengan baik oleh karena cakupan penimbangan rata-rata perbulan <60%. Dari 31.670 jumlah Balita hanya 57,5% yang timbang dengan jumlah Balita gizi kurang (bawah garis merah) sebanyak 7.43 Balita atau 4,1% sedangkan Balita dengan gizi buruk (tampa gejala klinis) sebanya 526 kasus atau 3%, lebih rendah dari rata-rata nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

UPAYA KESEHATAN

 

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat merupakan perwujudan dari visi dan misi pembangunan di bidang kesehatan. Hal ini selaras dengan tujuan pembangunan millennium /MDGs (Millenium Development Goals). Dalam MDGs, upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan pada Upaya Kesehatan Ibu dan Anak. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan kesehatan reproduksi. Untuk mencapai tujuan tersebut upaya yang ditempuh meliputi Upaya Keselamatan Ibu Melahirkan (Making Pregnancy Safer/MPS). Selama kehamilan seorang ibu perlu memperoleh serangkaian tindakan standar agar terwujud MPS demikian pula pada saat kelahiran. MPS merupakan program utama dalam Upaya Kesehatan Ibu dan Anak.

 

4.1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

Tingkat kesejahteraan suatu bangsa dapat dilihat dari seberapa tinggi derajat Kesehatan Ibu dan Anak. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terdiri dari beberapa kegiatan utama yaitu kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan  (K1 dan K4) untuk memperoleh pelayanan sesuai standar 10T, Deteksi Risiko tinggi (Bumil Risti), Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (Linakes), Penanganan Komplikasi, Kunjungan Bayi dan Neonatus serta pelayanan KB. Adapun target SPM tahun 2018 untuk masing-masing kegiatan KIA tidak berbeda dengan tahun sebelumnya.

 

 

 

4.1. 1. Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan K4) dan Deteksi risiko Tinggi

Dari laporan kinerja KIA Puskesmas Blang Bintang bahwa cakupan kunjungan ibu hamil trisemester 4 (Cakupan K4) pada Tahun 2017 mencapai 219 (63,3%) dari 346 orang ibu hamil dengan komplikasi kebidanan sebesar 11 (16,18%) dari 68 orang ibu hamil yang diperkirakan dengan komplikasi, sedangkan pada Tahun 2018 kunjungan ibu hamil trimester 4 (cakupan K4) mencapai  215 (62,1%) dari 346 orang ibu hamil dan ibu hamil dengan komplikasi kebidanan sebesar 9 (13,24%) dari 68 orang ibu hamil yang diperkirakan dengan komplikasi.

Grafik 4.1

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4)

Di Kecamatan Blang BintangTahun 2017-2018

 

4.1.2. Persalinan Oleh Nakes dan Kunjungan Nifas

Diwilayah kerja Puskesmas Blang Bintang pada Tahun 2017 sebanyak 220 (66,9%) persalinan ditolong oleh tenaga Kesehatan dari jumlah sasaran ibu hamil sebesar 329 orang, dan Ibu melahirkan yang dalam masa nifas dan telah dikunjungi oleh tenaga kesehatan untuk diberikan perawatan nifas sebesar 218 orang (66,3%). Dan pada Tahun 2018 sebanyak 216 (65,5%) persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan dari jumlah sasaran ibu bersalin sebesar 330 orang dan ibu melahirkan yang dalam masa nifas dan telah dikunjungi oleh tenaga kesehatan untuk  diberikan perawatan nifas sebesar 216 orang (65,5 %).

Grafik 4.2

Cakupan Persalinan Oleh Nakes dan Kunjungan Nifas

Di Kecamatan Blang BintangTahun 2017-2018

 

 

4.1.3. Kunjungan Neonatus dan Bayi

Setiap bayi baru lahir membutuhkan perawatan spesifik oleh tenaga kesehatan yang sudah memiliki kompetensi dibidang ini. Perawatan bayi baru lahir merupakan satu paket yang dikemas dalam bentuk kunjungan Neonatus (KN). KN ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu KN 1 6-48 jam paska lahir,KN 2 dilakukan 3-7 hari kemudian dan KN3 8-28 setelah KN2. Jika neonatus telah mendapatkan 3 kali KN di sebut KN lengkap. Beberapa jenis pelayanan dalam KN yaitu: Penimbangan berat badan,  Imunisasi dasar lengkap,  Stimulasi Deteksi dan Intervensi dini Tumbuh Kembang,  pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus (untuk bayi 6 bulan ke atas)  Konseling perawatan bayi termasuk ASI eklusif dan pemberian makan tambahan. Tujuan dari KN adalah untuk memantau ibu nifas dan bayi agar tetap sehat dan selamat.

Pada tahun 2017, sebanyak 219 bayi lahir hidup sedangkan yang mendapatkan KN 1 sebesar 219 (100%) bayi, dan yang mendapat KN Lengkap sebesar 211 (96,3%) bayi. Angka ini sudah setara dengan target nasional maupun target SPM Kabupaten. Dibanding dengan KN pada tiga tahun ke belakang, terlihat bahwa setiap tahun KN ini terus menerus meningkat. Hal ini tidak terlepas dari semakin meratanya penempatan bidan di desa dan peningkatan status Puskesmas. Dan pada Tahun 2018 sebanyak 221 bayi lahir hidup, sedangkan yang mendapat KN 1 sebesar 206 (93,2 %) bayi, dan yang mendapat KN Lengkap sebesar 152 (68,8 %) bayi.

4.1.4. Akseptor Keluarga Berencana dan Distribusi Alat Kontrasepsi

Pada Kecamatan Blang Bintang Pada Tahun 2017 jumlah peserta KB Aktif sebanyak 1.135 ( 53,1% ) serta jumlah peserta KB Baru Sebanyak 50       (2,3%) dan  Pada Tahun 2018 jumlah peserta KB Aktif sebanyak  1.099          ( 51,5 % ) serta jumlah peserta KB Baru sebanyak 121 ( 5,7 % )

Tabel berikut mengambarkan tingkat akseptor KB dan tingkat pertumbuhan akseptor KB baru di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar sejak tahun 2017 s/d 2018.

Tabel 4.1

Jumlah Peserta KB

Di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang Tahun 2017-2018

 

NO

TAHUN

JUMLAH PUS

PESERTA KB BARU

PESERTA KB AKTIF

JUMLAH

%

JUMLAH

%

1

2

3

4

5

6

7

1

2017

2136

50

2,3

      1135

53,1

2

2018

   2136

121

5,7

1099

51,5

 

 

 

4.1.5. Cakupan Vitamin A pada Bayi, balita dan Ibu Nifas

Pada Tahun 2017 Distribusi vitamin A dosis tinggi dua kali dalam setahun makin merata sehingga dari total 216 bayi dan 866 Balita, sebanyak 210 bayi dan 866 Balita sudah mendapatkan jatah kapsul vit A. Sementara itu seluruh ibu nifas berjumlah 220 sudah minum kapsul vit. A ibu nifas dua kali yaitu setelah melahirkan dan satu hari kemudian. Dan pada Tahun 2018 dari total 233 bayi dan 1754 Balita , sebanyak 226 bayi dan 1754 Balita sudah mendapatkan jatah kapsul vit.A.Sementara itu ibu nifas berjumlah 216 sudah minum kapsul vit.A ibu nifas dua kali yaitu setelah melahirkan dan satu hari kemudian.

  Cakupan vit. A bayi, Balita dan ibu nifas setiap tahun sudah mencapai target. Hasilnya terlihat, setiap tahun tidak ada anak di Kecamatan ini yang menderita Xeropthalmia atau kebutaan akibat kekurangan vit. A.

 

4.1.6. ASI Eksklusif dan PMT Gakin

Program kampanye ASI Eklusif makin ditingkatkan dalam tiga tahun terakhir ini. Beberapa Puskesmas ditetapkan sebagai pilot projek kampanye ASI Eklusif dengan melatih konselor ASI dengan latar belakang bidan. Meskipun kampanye ASI sudah berjalan dengan baik, cakupan ASI Eklusif masih jauh di bawah target. Rendahnya cakupan ASI eklusif di Kabupaten Aceh Besar disebabkan oleh kegagalan pada tahap Inisiasi Menyususi Dini (IMD) oleh karena tidak semua bidan atau klinik swasta menerapkan IMD. Diwilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Cakupan pemberian ASI eksklusif pada tahun 2017 sebesar 130 (59,4%)  dari 219 jumlah bayi, sedangkan pada Tahun 2018 jumlah bayi yang diberi ASI Eklusif sebesar 165 bayi (72,1 %) dari 229 jumlah bayi.

Trend Perkembangan cakupan ASI Eklusif  dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

 

 

Grafik 4.3

Cakupan ASI Eklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar tahun 2017-2018

 

 

 

4.1.7. Penimbangan Balita dan Cakupan Balita gizi Buruk

Posyandu adalah salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang merupakan sarana untuk untuk memantau tumbuh kembang Balita, adapun pelayanan kesehatan di Posyandu  meliputi penimbangan berat badan, imunisasi, pemberian PMT dan sebagainya. Sementara itu, pada tahun 2017 D/S hanya mencapai 75,1 %. Dan mengalami peningkatan Pada Tahun 2018 D/S mencapai 82,9 %.

Oleh karena tingkat partisipasi ke Posyandu mulai ada peningkatan, penjaringan kasus gizi kurang dan gizi buruk menjadi sedikit peningkatan. Pada 2017, jumlah balita BGM sebanyak 21 (2,7 %) dari 768 Balita yang ditimbang, sedangkan Balita Gizi Buruk baik kasus klinis maupun non klinis tidak ditemukan, pada Tahun 2018 jumlah Balita BGM 40 (4,5 %) dari 882 Balita yang ditimbang, dan untuk Balita Gizi Buruk baik kasus klinis maupun non klinis tidak ditemukan.

 

Tabel berikut mengambarkan tingkat cakupan penimbangan BALITA dan BGM di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar sejak tahun 2017 s/d 2018.

 Tabel 4.2

Cakupan Penimbangan BALITA dan BGM

Di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang Tahun 2017-2018

 

Tahun

Jumlah Balita Yang ditimbang (D)

Jumlah Balita BGM

Tahun 2017

768

21

Tahun 2018

882

40

 

4.1.8. Imunisasi Bayi

Tingginya cakupan imunisasi berkaitan dengan besarnya kepedulian dari semua pihak (Pemda dan Donatur). Setiap tahun selalu tersedia anggaran sweeping bagi gampong-gampong yang bermasalah dengan imunisasi. Bantuan dana sweeping berasal dari Pemerintah Pusat lewat Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Rendahnya cakupan Imunisasi kemungkinan disebabkan oleh karena sebagian besar persalinan yang berlangsung di klinik atau Rumah Sakit Swasta belum mewajibkan imunisasi pada setiap setiap bayi lahir ataupun oleh karena pencatatan dan pelaporan yang tidak valid.

 Di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Tahun 2017 dari jumlah bayi sebesar 219 orang, yang mendapat imunisasi BCG 230 (105,02%), Polio4 200 (91,3%), DPT-HB1 183 (83,56%), DPT-HB3 211 (96,3%), Campak 215 (75,97%) dan Imunisasi dasar lengkap 154 ( 54,42%). Dan pada Tahun 2018 dari jumlah bayi sebesar 219 orang yang mendapat imunisasi BCG 196 (89,50%), Polio4 198 ( 69,7%), DPT-HB1 206 (94,06%), DPT-HB3 158 (56%), Campak 175 (61,6%) dan Imunisasi dasar lengkap 158 ( 55,6%).

Grafik 4.4

Cakupan Imunisasi Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar tahun 2017-2018

 

4.2.     Perilaku Hidup Masyarakat

Hingga kini, di wilayah kerja Puskesmas Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar pada Tahun 2018, Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tingkat rumah tangga belum teraplikasi sepenuhnya, dari jumlah rumah tangga  sebesar 2.433 rumah yang ber- PHBS hanya 646 (37,9%) rumah, sedangkan PHBS tingkat institusi (Sekolah, Kantor, Tempat-Tempat Umum) belum terlaksana sama sekali. Hingga 2018, cakupan Rumah Tangga ber-PHBS masih jauh di bawah target.

 

4.3.     Keadaan Lingkungan

4.3.1. Rumah Sehat

 Selain PHBS tingkat Rumah Tangga yang masih jauh di bawah target, proporsi Rumah Sehat sesuai kriteria Kepmenkes juga mengalami penurunan, dimana Pada Tahun 2017 di Kecamatan Blang Bintang Rumah sehat berjumlah 1912 unit. Serta pada tahun 2018 Jumlah Rumah Sehat 1795 unit .

4.3.2. Sanitasi Dasar

Selain Rumah Sehat sarana sanitasi dasar sehat juga tidak mengalami perubahan. Dari hasil pendataan Tahun 2017 di Kecamatan Blang Bintang terdapat 1991 jamban sedangkan jamban sehat hanya 1940 dari seluruh jamban yang diperiksa, begitu juga pada Tahun 2018 tidak mengalami perubahan.

4.3.3. Pembinaan Institusi

Program pembinaan institusi semakin berkembang setiap tahun. Institusi yang dibina mencakup sekolah-sekolah dan Pasantren/Dayah. Seluruh Sekolah Dasar dan setingkat telah dibentuk kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah.

Pada Tahun 2018 di Kecamatan Blang Bintang dilakukan kegiatan penjaringan kesehatan terhadap anak Sekolah Dasar (SD)/ sederajat. Adapun jumlah seluruh siswa/i Sekolah Dasar (SD)/sederajat sebanyak 228 siswa/i dan yang mendapatkan pelayanan penjaringan kesehatan sebanyak 206 (90,3%) siswa/i, yang tidak mendapatkan pelayanan penjaringan kesehatan sebanyak 22 siswa/i (9,7%) hal ini dikarenakan siswa/i tidak hadir pada saat dilakukan kegiatan penjaringan kesehatan dan akan dilakukan penjaringan kesehatan kembali pada saat pemeriksaan berkala.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

SUMBER DAYA KESEHATAN

 

 

5.1.     Sarana Kesehatan

Hingga tahun 2018, penyelenggara pelayanan kesehatan di Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar masih didominasi oleh milik pemerintah sedangkan sektorswasta tidak mengalami peningkatan. Sebanyak 4 unit Puskesmas Pembantu, Serta Poskesdes berjumlah 15 unit yang berada di Desa Lamsiem 1 unit ,Desa Cot Madhi 1 unit, Desa Bueng Pageu 1 unit, Desa Cot Karieng 1 unit, Desa Bueng Sidom 1 unit, Desa Paya Ue 1 unit, Desa Cot Sayuen 1 unit, Desa Cot Leuot 1 unit, Desa Cot Bagie 1 unit, Desa Cot Rumpun 1 unit, Desa Empee Bata 1 unit, Desa Data Makmur 1 unit, Cot Meulangen 1 unit, Desa Cot HoHo 1 unit, Desa Teupin Batee 1 unit  merupakan milik pemerintah. Di lain sisi jumlah layanan kesehatan yang diselenggarakan oleh swasta meliputi  2 praktek dokter, dan 2 praktek bidan.

 

5.2. Jumlah UKBM dan Posyandu

Upaya Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sulit dicapai jika hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Untuk itu perlu dukungan partisipasi aktif masyarakat. Partisipasi masyarakat dibidang kesehatan dapat diukur dari beberapa indikator, antara lain adalah strata Posyandu, Strata Desa (Gampong) Siaga dan PHBS. Target partisipasi masyarakat pada posyandu sebesar >60%, yang tergambar dari >60% Posyandu dengan strata Pratama dan Madya tidak ada, Purnama 27 Posyandu dan Mandiri 1 Posyandu. Hingga 2018, gambaran partisipasi masyarakat Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar disektor kesehatan tidak mengalami perubahan berarti dibanding tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari perkembangan strata Posyandu dan Desa Siaga Sebagaimana pada Grafik di bawah ini.

 Dari 1 unit Pesantren (Dayah) yang terdata hampir semuanya pernah dibina menjadi Poskestren  namun tingkat keaktifan Poskestren tersebut belum dapat diukur. Rendahnya tingkat perkembangan Poskestren disebabkan oleh ketiadaan alokasi dana untuk menunjang kegiatan ini.

Sedangkan di Kecamatan Blang Bintang Perkembangan Strata Posyandu dan Desa Siaga Dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik 5.1

Persentase Strata Posyandu

Di Kecamatan Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar Tahun 2018

 

 

Grafik 5.2

Persentase Desa Siaga di Kecamatan Blang Bintang

Kabupaten AcehBesar

Tahun 2018

 

 

5.3. Ketersediaan Obat

Obat-obatan merupakan komponen utama pelayanan kesehatan. Tingkat kebutuhan obat-obatan setiap tahun makin meningkat seiring meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas dan peningkatan kapasitas Puskesmas. Jenis obat yang dikelola oleh Puskesmas mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yaitu golongan obat generic berlogo sebesar 100%.

Obat-obat yang dikelola Puskesmas berasal dari beberapa sumber yakni APBN, APBD, ASKES, JKN dan kerja sama program. Pada tahun 2018 tersedia sebanyak 128 item obat.

Dari laporan Obat (LPLPO) dapat diketahui jenis obat terbanyak adalah Paracetamol (PCT) tablet 500 mg sebanyak 31.438 tablet. Pengadaan obat mengikuti tren konsumsi sesuai perkembangan pola penyakit utama rawat jalan. Pengeluaran obat terbanyak pada 2018 tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana Paracetamol (PCT) 500 mg tablet sebanyak 31.438 tablet berada pada rangking pertama dan disusul Klorfenirmin Maleat (CTM) tablet 4 mg sebanyak 26.593 tablet berada pada rangking kedua, Antasida DOEN tablet  sebanyak 22.653 tablet pada urutan ketiga, Asam ascorbat (Vit C) tablet 50mg 22.213 tablet pada urutan keempat, Besi (II) sulfat 200MG + Asam folat 0,25mg (tablet tambah darah kombinasi) 15.739 tablet diurutan kelima dan  Metilprednisolon tablet 4mg  sebanyak 15.724 tablet berada diurutan keenam. Adapun penyakit utama rawat jalan yaitu ISPA, Penyakit pada Sistim Otot dan Jaringan Pengikat, Tukak lambung(Dyspepsia), Comoncol dan Hypertensi. Jika dilihat antara jumlah kasus penyakit terbanyak dengan pengeluaran obat terbanyak akan nampak kesesuaian antara jenis penyakit dengan jenis obat yang diberikan sehingga penggunaan obat di Puskesmas kemungkinan besar telah sesuai dengan standar pengobatan rasional.

 

 

5.4     Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan merupakan unsur utama yang mendukung subsistem kesehatan lainnya. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. Subsistem SDM kesehatan bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan yang bermutu secara mencukupi, terdistribusi secara adil, serta termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdayaguna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Menurut Peraturan Pemerintah no.32 tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan, dijelaskan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dibidang kesehatan serta mempunyai pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

Guna memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang professional, jumlah dan kualifikasi tenaga kesehatan terus menerus ditingkatkan. Pada 2018 proporsi tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Blang Bintang adalah Dokter umum 2 orang, Dokter Gigi 1 orang, Bidan 37 orang, Perawat 13 orang, Perawat Gigi 4 orang, Farmasi 2 orang, Tenaga Kesehatan Masyarakat 6 orang, Tenaga Kesehatan Lingkungan 3 orang, Nutrisionis 2 orang, Analisis Kesehatan 2 orang, dan Tenaga Non Kesehatan Juru 2 orang.

 

5.5      Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan menjadi komponen kunci keberhasilan palayanan kesehatan. Seiring dengan pergeseran paradigma pelayanan kesehatan menuntut pembiayaan kesehatan yang semakin mahal pula. Oleh karena itu, sumber pembiayaan kesehatan tidak mungkin ditanggulangi oleh sektor pemerintah saja akan tetapi perlu dukungan dari sektor swasta maupun perseorangan. Pada tahun 2018 alokasi pembiayaan anggaran kesehatan pada Puskesmas Blang Bintang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 

Tabel 5.1

Pembiayaan Kesehatan

Pada Puskesmas Blang Bintang Tahun 2018

 

No

Sumber Biaya

Jumlah

1

2

3

1

APBD Kab/Kota

 Rp      4.123.303.293    

2

Dana BOK

 Rp         583.900.000

3

Dana JKN

 Rp         687.000.000

 

Jumlah Total

 Rp     5 .394.203.293

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

 

Pelaksanaan urusan pemerintah dibidang kesehatan pada tahun 2018 sudah terlaksana dengan baik dan merata, namun demikian beberapa program kegiatan belum mampu diselesaikan dengan baik sesuai target standar minimal yang telah ditetapkan, antara lain adalah:

  1. Trend angka kematian bayi terlihat masih tinggi yang disebabkan oleh makin baiknya system dokumentasi pencatatan dan pelaporan pelayanan ibu dan bayi.
  2. Kegiatan pelayanan kesehatan di tingkat Posyandu sudah efektif yang terlihat dari peningkatan cakupan D/S sehingga penjaringan kasus balita dengan gizi kurang dan gizi buruk mulai terjaring.
  3. Penyakit menular yang berpotensial wabah seperti diare dan DBD mampu ditekan hingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.
  4. Cakupan sanitasi dasar (rumah, jamban, Saluran Pembuangan limbah / SPAL, Sumber Air Bersih / SAB, Pengawasan Tempat-Tempat Umum / TTU, Tempat Pengolahan Makanan / TPM) yang memenuhi syarat kesehatan masih di bawah target Standar Minimal Pelayanan Kesehatan (SPM).
  5. Tingkat Partisipasi masyarakat dalam kegiatan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) sudah sesuai harapan dimana kegiatan penimbangan (D/S) sudah mencapai < 84,5% sedangkan Poskestren belum mencapai target.
  6. Pelayanan obat sudah dilakukan lewat satu pintu namun pengawasan penggunaan obat rasional belum terlaksana secara efektif.

 

 

                                            

Editor : PKM BLANG BINTANG

Related Posts